Karya: Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty

بسم الله الرحمن الرحيم

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah ta’ala, bertepatan dengan moment Ramadhan kali ini, kita semua menjadi teringat kenangan indah bersama Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan kala kita kecil dulu, ketika kita belajar mengikatkan kain sarung di pinggang untuk shalat tarawih dan mengaji ke surau kampung.

Ramadhan di awal kali kita mengenal hidayah sunnah dengan segala ketaatan yang kita lakukan di dalamnya. Mushaf kecil yang selalu kita baca di malam-malam penuh berkah. Ramadhan yang mengingatkan masa-masa indah berbuka puasa bersama keluarga serta orang-orang yang kita cintai. Dan yang paling berkesan dari Ramadhan ialah kedekatan kepada Allah. Zat yang telah menciptakan kita, Zat yang seringkali kita lalaikan yang barangkali tak kita dapatkan kedekatan serupa di bulan lain selain Ramadhan.

Bahagia, haru, rindu, sedih bercampur menjadi satu menjelma menjadi satu perasaan yang sukar untuk diungkapkan kata-kata. Kami berdoa kepada Allah ta’ala agar menganugrahkan dan menambahkan kepada kita semua rasa cinta kepada-Nya, semangat berittiba’/mengikuti sunnah Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dan juga kerinduan untuk senantiasa berjumpa dengan bulan Ramadhan bulan yang mulia.

Melalui catatan ringkas ini kami berharap agar kita memahami dengan terang keutamaan agung dari bulan Ramadhan serta macam-macam ibadah yang menyertainya terutama puasa beserta keutamannya. Dan juga keutamaan bagi orang-orang yang berpuasa serta menghidupkan Ramadhan dengan berbagai ketaatan.

Perlu untuk kita fahami bersama bahwa kwalitas ibadah kita di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan sangat tergantung dengan dekat dan jauhnya kita dari sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana yang telah diisyaratkan sendiri oleh penghulu anak turun Adam ‘alaihissalam dalam haditsnya yang mulia :

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan dari puasanya kecuali hanya lapar, dan betapa banyak orang yang shalat malam tidak mendapatkan dari shalatnya kecuali lelahnya begadang”.

(HR. Ibnu Majah: 1690 dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih At-Targhib Wat-Tarhib: 1/453).

Syaikh Majdi Al-Hilali berkata ketika menjelaskan makna hadits ini :

ولو قمنا بإظهار معاني العبودية لله عز وجل ولكن بشكل مبتدع مخالف للذي ارتضاه لنا فلن يُقبل منا، وسيُرَد علينا

“Seandainya kita menampakkan hakikat makna ibadah kepada Allah azza wa jalla, akan tetapi dalam bentuk yang baru yang menyelisihi syariat yang telah Allah ridhai maka ibadah kita tidak akan diterima dan akan ditolak.”

(Haqiqatul ‘Ubudiyyah: 15).

Maka dari itu kita harus mengenal dengan lebih dekat karakeristik puasa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dan juga adab, serta sunnah-sunnah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan. Karena tidak semua kalangan diberikan kemudahan untuk menelaah berbagai referensi berkaitan dengan masalah ini, maka kami mencoba membuat catatan ringkas untuk memudahkan dan menyederhanakan pembahasan supaya manfaatnya bisa menyebar lebih luas. Hanya kepada Allah saja kami meminta pertolongan taufik serta kemudahan.

Kami ucapkan untaian syukur tak terkira dan terima kasih tiada tara kepada Allah ta’ala yang telah memberikan taufik dan kemudahan sehingga pada akhirnya catatan kecil ini bisa kami selesaikan meski dengan tertatih. Tiada kemudahan melainkan dari Allah ia berasal, dan kita semua hanya makhluk lemah lagi tak berdaya.

Kami juga mengucapkan syukur dan terima kasih kepada bapak ibu kami yang telah bersusah payah membesarkan, mendidik dan membimbing masa kecil kami menuju jalan Allah ta’ala. Semoga Allah ta’ala senantiasa menjaga beliau berdua, menyanyangi mereka dan menganugrahkan kesehatan serta menjadikan kami termasuk ke dalam golongan hamba-hamba Allah yang berbakti kepada kedua orang tuanya.

Tak lupa kami menantikan kritikan membangun dari para guru, para kyai, para ustadz dan saudara-saudara kami para penuntut ilmu demi makin baik dan makin bagusnya catatan ringkas ini. Karena bagaimanapun pula, tak ada gading yang tak retak, tak ada tulisan yang selamat dari aib serta kekurangan. Kesempurnaan hanya milik Allah Rabbul’ alamin.

Namun demikian kami berharap agar kekurangan yang ada disikapi dengan bijak. Disikapi dengan kritikan ilmiyyah yang dibarengi akhlak mulia. Agar terasa ringan dan mudah bagi jiwa kami untuk berbesar hati menerimanya. Semoga Allah ta’ala senantiasa menjaga Syaikh Abu Abdil Bari Al-‘Id bin Sa’ad Syarifi Al-Jaza’iri beliau menyatakan ;

فانظر إليه نظر المستحسن … وحسن الظن به وأحسن

وإن تجد عيبا فسد الخللا … فجل من لا عيب فيه وعلا

-;;- Lihatlah ia (saudaramu) dengan pandangan sayang *** Berbaik sangkalah kepadanya dan kasihilah ia.

-;;- Jika kau dapati aib maka tutuplah celah *** Maha Mulia Allah Dzat yang tiada memiliki aib lagi Maha Tinggi.

(Tabshiratul A’syaa: 9)

Terakhir di penghujung sekapur sirih ini kami memohon kepada Allah ta’ala agar menganugrahkan kepada kami keikhlasan di dalam ucapan dan perbuatan. Karena tak ada yang bermakna di sisi Allah ta’ala sama sekali melainkan hati yang bersih dari berbagai kotoran yang merusak, Allah ta’ala berfirman :

يَوْمَ لاَيَنفَعُ مَالٌ وَلاَبَنُونَ {88} إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ {89}

”(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

(QS. Asy-Syu-‘ara: 88-89).

Semoga bermanfaat dan selamat membaca.

Bayat, 27 Jumadal akhir 1439H/15 Maret 2018

Hamba yang lemah

Abul Aswad Al Bayaty

Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang meng-khususkan menyebut puasa serta menjelaskan keutamaannya. Diantaranya Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

(QS. Al-Ahzab : 35).

Al-Imam Ibnu Katsir -semoga Allah senantiasa merahmati beliau- ketika menerangkan tafsir ayat ini dan mengetengahkan keutamaan puasa, beliau berkata:

في الحديث الذي رواه ابن ماجه : ” والصوم زكاة البدن ” أي : تزكيه وتطهره وتنقيه من الأخلاط الرديئة طبعا وشرعا قال سعيد بن جبير : من صام رمضان وثلاثة أيام من كل شهر ، دخل في قوله : ( والصائمين والصائمات ) ولما كان الصوم من أكبر العون على كسر الشهوة – كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” يا معشر الشباب ، من استطاع منكم الباء فليتزوج ، فإنه أغض للبصر ، وأحصن للفرج ، ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء “

“Disebutkan di dalam hadits riwayat Ibnu Majah ‘Puasa adalah zakatnya badan’ maksudnya puasa ini mensucikan badan, membersihkan dan memurnikan-nya dari berbagai kotoran yang buruk baik, dari sudut pandang tabiat maupun sudut pandang syariat. Sa’id bin Jubair berkata ;

Barangsiapa puasa di bulan Ramadhan dan puasa tiga hari setiap bulannya maka ia termasuk kelompok yang difirmankan oleh Allah ‘Wash-Ash-Soimin wash-Sho’imat’/para lelaki dan wanita yang gemar berpuasa.

Dan puasa ini diantara faktor terbesar yang bisa mengendalikan syahwat sebagaimana sabda nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ; ‘Wahai para pemuda barangsiapa diantara kalian telah mampu, hendaknya menikah, karena itu lebih menjaga pandangan dan kemaluan. Barangsiapa tidak mampu hendaknya ia berpuasa karena puasa akan menjadi perisai baginya”.

Dan ketika menjelaskan firman Allah yang menerangkan balasan bagi orang-orang yang berpuasa, beliau (Imam Ibnu Katsir) kembali berkata :

وقوله : ( أعد الله لهم مغفرة وأجرا عظيما ) أي : هيأ لهم منه لذنوبهم مغفرة وأجرا عظيما وهو الجنة

“Dan firman Allah ta’ala (Allah menyiapkan bagi mereka pengampunan dan pahala yang besar) maksudnya ialah : Dengan sebab puasa Allah menyiapkan bagi mereka atas dosa mereka pengampunan serta pahala yang besar yaitu syurga”. (Tafsir Ibnu Katsir : 1501)

Dalam ayat yang lain Allah ta’ala juga berfirman menjelaskan keutamaan puasa :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas umat-umat sebelum kalian agar kalian bertaqwa.”

(QS Al-Baqarah : 183).

Al-Imam Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menerangkan kaitan ketaqwaan dengan puasa pada ayat di atas, beliau berkata :

فإن الصيام من أكبر أسباب التقوى، لأن فيه امتثال أمر الله واجتناب نهيه. فمما اشتمل عليه من التقوى: أن الصائم يترك ما حرم الله عليه من الأكل والشرب والجماع ونحوها، التي تميل إليها نفسه، متقربا بذلك إلى الله، راجيا بتركها، ثوابه، فهذا من التقوى. ومنها: أن الصائم يدرب نفسه على مراقبة الله تعالى، فيترك ما تهوى نفسه، مع قدرته عليه، لعلمه باطلاع الله عليه، ومنها: أن الصيام يضيق مجاري الشيطان، فإنه يجري من ابن آدم مجرى الدم، فبالصيام، يضعف نفوذه، وتقل منه المعاصي، ومنها: أن الصائم في الغالب، تكثر طاعته، والطاعات من خصال التقوى، ومنها: أن الغني إذا ذاق ألم الجوع، أوجب له ذلك، مواساة الفقراء المعدمين، وهذا من خصال التقوى.

“Maka sesungguhnya puasa adalah sebab terbesar munculnya ketaqwaan. Karena di dalamnya terdapat unsur taat pada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Diantara unsur ketaqwaan yang ada di dalam puasa ialah ;

Bahwa orang yang berpuasa meninggalkan apa yang Allah larang atas dirinya berupa makan, minum, jimak dan lainnya yang merupakan kesenangan jiwanya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, dan berharap pahala ketika ia meninggalkan ini semua. Ini adalah bagian dari ketaqwaan.

Kemudian lagi orang yang berpuasa itu berlatih merasakan pengawasan Allah. Ia meninggalkan apa yang ia sukai dan apa yang ia mampu untuk melakukannya, karena ia sadar Allah maha mengetahui semua yang ia lakukan.

Kemudian lagi puasa itu mempersempit gerak syaithan. Sesungguhnya syaithan masuk ke dalam tubuh anak Adam melalui aliran darah. Maka dengan puasa menjadi lemah kemampuannya sehingga maksiatpun akan hilang.

Dan dengan puasa pada umumnya manusia akan lebih banyak berbuat ketaatan, dan ketaatan ini bagian dari ketaqwaan. Demikian pula si kaya jika ia merasakan sakitnya rasa lapar maka hal tersebut akan berimbas munculnya empati kepada para fakir miskin dan orang mlarat, ini pun merupakan bagian dari unsur ketakwaan”. (Taisir Karimirrahman Fi Tafsir Kalamil Mannan : 86).

Banyak sekali manfaat puasa yang bisa kita dapatkan baik manfaat di dunia maupun manfaat di akhirat. Berikut kami sampaikan keutamaan-keutamaan puasa :

a). Puasa sebagai perisai

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِيعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وَجَاءٌ

“Wahai para pemuda barangsiapa diantara kalian sudah memiliki kemampuan maka hendaknya menikah, karena itu lebih menjaga pandangan dan kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu hendaknya ia berpuasa, karena puasa akan menjadi perisai baginya”. (HR. Muslim : 1400).

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata :

يقي صاحبه ما يؤذيه من الشهوات

“Puasa akan menjaga pelakunya dari apa yang mengganggu dia berupa nafsu syahwat”. (Fathul Bari : 4/104).

Nabi memerintahkan para pemuda yang syahwatnya menggelora untuk menikah, dan bagi yang belum mampu menikah hendaknya berpuasa. Karena puasa ini melemahkan setiap anggota badan dari berbuat liar serta menenangkannya. Ia juga menenangkan kekuatan liar yang mungkin muncul karena dorongan hawa nafsu. Dan puasa ini memiliki pengaruh yang luar biasa ajaib untuk menjinakkan kekuatan lahiriyah maupun batiniyah.

Dan karena neraka itu senantiasa dihiasi dengan sesuatu yang menyenangkan hawa nafsu. Maka puasa akan menjadi benteng pembatas antara pemuda dengan syahwatnya, menjadi benteng yang menjauhkan dia dari sengatan api neraka. Dalam riwayat yang lain nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لا يَصُومُ عَبْدٌ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلا بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ النَّارَ عَنْ وَجْهِهِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari saja di jalan Allah melainkan Allah akan menjauhkan dirinya dari neraka sejauh tujuh puluh tahun perjalanan”. (HR Bukhari : 2840, Muslim : 1153, dinyatakan shahih oleh Imam Al-Albani lihat Ta’liqatul Hisan ‘Ala Shahih Ibnu Hibban : 3417).

b). Puasa menjadi sebab kita masuk syurga

Telah kita ketahui bersama bahwa ketika puasa bisa menjauhkan kita dari neraka, maka sebaliknya ia akan mendekatkan kita ke syurga. Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu ia berkata :

قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ , أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ , قَالَ : ” عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ , فَإِنَّهُ لَا عِدْلَ لَهُ ” , أَوْ قَالَ : ” لَا مِثْلَ لَهُ ” .

“Aku berkata kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ‘Wahai rasulullah kabarkanlah kepadaku tentang suatu amal yang akan memasukkan aku ke dalam syurga?’. Beliau menjawab ‘Wajib atasmu untuk melakukan puasa, karena tidak ada yang sebanding dengannya’ atau beliau mengatakan ‘tidak ada yang setara dengannya’. (HR An-Nasa’i : 4/165, dinyatakan shahih oleh Imam Al-Albani lihat Ta’liqatul Hisan ‘Ala Shahih Ibnu Hibban ; 3425).

Setelah mendapatkan jawaban ini, tidak pernah di dapati Abu Umamah dan istrinya dan juga pembantunya melainkan pasti mereka senantiasa dalam keadaan berpuasa. Dan jika ada asap mengepul dari rumah mereka di siang hari, bisa dipastikan mereka sedang menerima tamu karena memasak untuk menjamu tamunya. (Lihat Musnad Imam Ahmad No. 22140).

c). Puasa menghasilkan pahala tanpa batas

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَف ، الْحَسَنَةُ بعَشْرِ أَمْثَالِهَا ، الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَةِ ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ ، يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

“Setiap amal anak Adam dilipat gandakan pahalanya, setiap kebaikan dilipatkan sepuluh kali lipat, hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ta’ala berfirman ; ‘Kecuali puasa, sesungguhnya puasa ini untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya”. (HR Bukhari : 1894, Muslim : 1151).

Imam Muhammad Ibnul Wazir Al-Yamani berkomentar tentang hadits ini :

وهذا يدلُّ على أن جزاء الصوم يزيد على سبع مئة كالصبر، فهو يُناسِبُ في المعنى، لأن الصومَ صبرٌ مخصوص، فقد دَخَلَ في وعدِ الله في كتابه للصابرين حيث قال: {إنما يُوفَّى الصابرون أجرهم بغير حسابٍ} [الزمر: 10] “Hadis ini menjadi bukti nyata bahwa berlipatnya pahala puasa itu melebihi tujuh ratus kali lipat sebagaimana juga kesabaran. Maka puasa ini mencocoki kesabaran dari sisi makna, karena puasa adalah kesabaran yang khusus. Hal ini termasuk ke dalam janji Allah terhadap orang-orang yang sabar di dalam Al-Qur’an yang mana Allah berfirman ; ‘Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan mendapatkan pahala mereka dengan tanpa batas’ (QS. Az-Zumar : 10)”. (Al-’Awashim Wal Qawashim : 9/105).

d). Orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan 

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

“Bagi orang yang berpuasa dua kebahagiaan, kebahagiaan ketika ia berbuka, dan kebahagiaan ketika ia berjumpa dengan tuhannya”. (HR. Muslim : 1151).

Syaikh Abdullah bin Muhammad Al-Ghunaiman berkata :

أنه يفرح إذا كمل يومه صائماً، فيؤمل ثواب ذلك عند الله، ويتناول طعامه وشرابه الذي أحله الله له بعد ما منعه منه لأجل صومه. ويفرح إذا لقي ربه عندما يجزيه أعظم جزاء، وهذه أعظم فرحة وأحلى

“Bahwa ia akan berbahagia ketika menyempurnakan hari itu dengan puasa, sehingga bisa berharap pahala di sisi Allah. Kemudian ia menikmati makan dan minum yang telah Allah halalkan bagi dia setelah sebelum dilarang karena sebab puasa. Ia juga berbahagia berjumpa dengan Tuhannya ketika Allah membalasnya dengan pahala yang paling agung, dan ini adalah kebahagiaan yang paling besar dan paling indah”. (Syarah Kitab Tauhid Min Shahih Bukhari : 2/353).

e). Bau mulut orang puasa lebih wangi dari minyak kasturi

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah ta’ala dibandingkan dengan minyak wangi Misk/kasturi.” (HR Bukhari : 1904, Muslim : 1151).

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan maksud ucapan ini :

وَقَالَ الدَّاوُدِيُّ وَجَمَاعَةٌ الْمَعْنَى أَنَّ الْخُلُوفَ أَكْثَرُ ثَوَابًا مِنَ الْمِسْكِ الْمَنْدُوبِ إِلَيْهِ فِي الْجَمْعِ وَمَجَالِسِ الذِّكْرِ وَرَجَّحَ النَّوَوِيُّ هَذَا الْأَخِيرَ

“Ad-Dawudi dan sekelompok ulama’ mengatakan maknanya ialah bau mulut orang puasa lebih banyak pahalanya dari pada minyak kasturi yang disunnahkan dipakai dalam perkumpulan dan majlis dzikir. Pendapat terakhir ini yang dikuatkan oleh An-Nawawi”. (Fathul Bari : 4/106).

f).  Puasa menjadi syafaat

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

“Puasa dan al-Qur’an akan memberi syafa’at kepada seorang hamba pada Hari Kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Rabbku, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka izinkan aku memberi syafa’at kepadanya. (HR. Ahmad : 6626, Al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawa`id : 3/181 berkata, ‘Rawi-rawinya adalah rawi hadits shahih, dinyatakan shahih pula oleh Al-Albani dalam Shahih Targhib Wat tarhib : 984).

Al-Qur`an berkata, ‘Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka izinkan aku memberi syafa’at kepadanya”.

Imam Ash-Shan’ani berkata :

شفاعة حقيقية كما دل له قوله : (يقول الصيام أي رب إني منعته الطعام والشهوات)

“Syafaat yang dimaksud dalam hadis ini adalah syafaat yang hakiki sebagaimana yang ditunjukkan oleh sabda nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ; ‘ibadah puasa akan berkata ; wahai Rabb sesungguhnya aku telah mencegahnya dari makan dan minum dst”. (At-Tanwir Syarah Jami’ish Shaghir : 7/95).

Beliau juga berkata :

ومن ذلك أيضًا الدليل على أن الشفاعة أنواع، منها الشفاعة العظمى للنبي -صلى الله عليه وسلم، ومنها شفاعة الأعمال الصالحة ومنها شفاعة الصيام والقرآن، ومنها شفاعة العلماء والشهداء وغيرها قال تعالى: {لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعاً}

“Dan dari hadis ini juga terdapat dalil bahwa syafa’at itu bermacam-macam, diantaranya adalah syafa’atul Udzma (syafaat yang agung) oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ada pula syafa’at dari amal-amal shalih, ada pula syafa’at puasa dan Al-Qur’an, ada pula syafa’atnya para ulama dan para syuhada’, dan yang lainnya, Allah ta’ala berfirman ;”Dan syafa’at itu semuanya milik Allah semata”. (At-Tanwir Syarah Jami’ish Shaghir : 1/97).

g). Pintu syurga Ar-Rayyan bagi orang yang berpuasa

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka.

Dikatakan kepada mereka,’Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut.” (HR. Bukhari : 1896 dan Muslim : 1152).

Syaikh Muhammad bin Abdullatif Al-Kirmani bertutur menerangkan maksud dari ungkapan ini :

والمعنى: أن أهل الصيام بتعطيشهم أنفسهم في الدنيا يدخلون من باب الريان، ويسقون من ذلك الباب شرابًا طهورًا قبل تمكنهم في الجنة؛ ليزولَ عطشهم.

“Maknanya bahwa ahli puasa dengan rasa haus yang mereka rasakan di dunia akan masuk ke dalam syurga melalui pintu Ar-Rayyan. Mereka minum dari situ dengan minuman yang suci lagi menyegarkan agar hilang rasa haus mereka sebelum mereka memasuki syurga”. (Syarhu Mashabihis Sunnah : 2/463).

Syaikh Muhammad Ali Adam Al-Itsyubi berkata :

(المسألة الثالثة): في فوائده: (منها): بيان عظمة فضل الصيام (ومنها): بيان كرامة الصائمين، حيث خصهم اللَّه تعالى على سائر الناس بدخولهم بباب الريان (ومنها): إثبات أبواب للجنة، ومن تلك الأبواب باب الريان مخصوص بالصائمين، فإذا دخلوا منه أُغلق، فلم يدخل منه أحد غيرهم (ومنها): فضل باب الريّان على غيره من الأبواب، حيث إن من دخله شرب عند الدخول، ثم لم يظما بعدُ. واللَّه تعالى أعلم بالصواب

“Masalah ketiga tentang faidah hadis ini : Diantaranya penjelasan akan besarnya keutamaan puasa. Kemudian penjelasan karamah orang-orang yang berpuasa, yang mana Allah mengkhususkan mereka dari seluruh manusia dengan memasukkan mereka melalui pintu Ar-Rayyan.

Diantara faidah hadis ini pula ialah penetapan nama pintu-pintu syurga. Dan diantara pintu-pintu tersebut adalah pintu Ar-Rayyan yang dikhususkan untuk ahli puasa. Apabila mereka telah masuk, maka pintu ini akan ditutup dan tidak ada yang masuk selain mereka.

Diantara faidahnya lagi ialah, penjelasan tentang keutamaan pintu Ar-Rayyan dimana orang yang masuk akan minum disitu, dan tidak akan pernah haus setelah itu selama-lamanya. Dan hanya Allah saja yang Maha Mengetahui”. (Dzakhiratul ‘Uqba Fi Syarhil Mujtaba : 21/108).

h). Puasa menggugurkan dosa

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam :

فتنة الرجل في أهله، وماله، وجاره تٌكِّفرها : الصلاة، والصيام والصدقة

“Fitnahnya seorang lelaki itu ada di keluarga, harta dan tetangganya. Dosanya bisa terhapus dengan shalat, puasa dan sedekah”. (HR. Bukhari : 144).

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa di bulan ramadhan dengan penuh rasa iman dan berharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu”. (HR. Bukhari : 38).

Al-Imam An-Nawawi bertutur :

مَعْنَى إيمَانَا : أي تَصْدِيقًا بِأَنَّهُ حَقٌّ مُعْتَقِدًا فَضِيلَتَهُ ، وَمَعْنَى احْتِسَابًا : أَنْ يُرِيدَ اللَّهَ – تَعَالَى – وَحْدَهُ ، لَا يَقْصِد رُؤْيَةَ النَّاسِ وَلَا غَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا يُخَالِفُ الْإِخْلَاصَ

“Makna ‘iimaanan’ (penuh rasa keimanan) adalah membenarkan bahwa puasa itu haq (baik dan benar dari sisi Allah-pent) ia juga meyakini keutamaan-keutamaan puasa. Dan makna ‘Ihtisaban’ adalah ia hanya menginginkan Allah semata tidak menginginkan supaya dilihat manusia dan niat-niat lain yang bisa menghancurkan keikhlasan”. (Syarah Shahih Muslim : 6/39).

i). Doa orang yang berpuasa dikabulkan oleh Allah

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ثَلاثَةٌ لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga golongan manusia yang tidak akan ditolak do’anya ; Penguasa yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan do’a dari orang yang dizalimi”. (HR. Ibnu Majah : 1752, Tirmidzi : 3598, dishahihkan oleh Imam Al-Albani di dalam kitab Shahih Sunan Ibnu Majah : 2/86).

Wallahu a’lam bish-shawab

Ramadhan itu adalah bulan kebaikan, bulan mulia, Allah memberikan banyak sekali kebaikan serta keberkahan di dalam nya sebagaimana yang tampak pada point-point sebagai berikut :

a). Allah ta’ala menurunkan kitab suci Al-Qur’an di bulan Ramadhan.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنْ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan, bulan yang padanya diturunkan (permulaan) Al-qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

(QS. Al-Baqarah : 185).

Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thabari ketika menafsirkan makna ayat ini beliau menyatakan :

أما”أنزل فيه القرآن”، فإن ابن عباس قال: شهر رمضان، والليلة المباركة ليلة القدر، فإن ليلة القدر هي الليلة المباركة، وهي في رمضان، نزل القرآن جملة واحدة من الزبر إلى البيت المعمور، وهو”مواقع النجوم” في السماء الدنيا حيث وقع القرآن، ثم نزل محمد صلى الله عليه وسلم بعد ذلك في الأمر والنهي وفي الحروب رسلا رسلا

“Adapun makna firman Allah (Al-Qur’an di turunkan di bulan Ramadhan), maka Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata ;

Ramadhan dan malam yang penuh berkah adalah Lailatul Qadar. Karena Lailatul Qadar adalah malam yang penuh berkah yang ada di dalam bulan Ramadhan. Al-Qur’an turun pada malam tersebut dengan sekaligus dari Zubur menuju ke Baitul Makmur di ‘Lokasi Bintang-Gemintang’ di langit dunia yang mana Al-Qur’an berada.

Kemudian Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam setelah itu berupa perintah, larangan, ijin berperang secara bertahap.” (Tafsir Ath-Thabari : 3/446)

b). Setan dibelenggu, pintu neraka ditutup, dan dibukanya pintu syurga.

Hal ini terjadi dan dimulai dari sejak awal kali permulaan bulan ramadhan, nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

“Jika telah masuk bulan ramadhan pintu-pintu syurga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, dan syaithan-syaithan dibelenggu”. (HR Bukhari : 3277, Muslim : 1079).

Syaikh Taqiyuddin Ibrahim bin Muflih berkata :

الشياطين تُسلسل وتُغَلّ في رمضان على ظاهر الحديث ، أو المراد: مَرَدة الشياطين ، وكذا جزمَ به أبو حاتم بن حبَّان وغيره من أهل العلم ، فليس في ذلك إعدام الشرِّ؛ بل قلَّة الشرّ؛ لضعفهم ، وقد أجرى الإمام أحمد هذا على ظاهره، قال عبد الله بن الإمام أحمد: قلتُ لأبي : قد نرى المجنون يُصرَع في شهر رمضان ؟! قال: هكذا جاء الحديث ولا تكلَّم في ذلك. فإنَّ أصل أحمد أن لا يتأوَّل من الأحاديث إلا ما تأوَّله السلف ، وما لم يتأوَّله السلف لا يتأوله

“Setan-setan dirantai dan dibelenggu di bulan Ramadhan berdasarkan makna tekstual hadits, atau maknanya yang dibelenggu adalah dedengkotnya setan. Demikian yang dikuatkan oleh Abu Hatim bin Hibban dan yang lainnya dari kalangan ahli ilmu. Dan bukan maksudnya menghilangkan keburukan sama sekali, namun hanya mengurangi keburukan karena kelemahan para setan di bulan ini.

Al-Imam Ahmad memberlakukan hadits ini apa adanya sesuai dengan makna tekstualnya. Abdullah bin Imam Ahmad berkata, aku berkata pada ayahku ; ‘Kita kadang mendapati ada orang gila yang kesurupan di bulan ramadhan’. Beliau menjawab : ‘Seperti itulah makna hadis apa adanya’.

Karena kaidah asal yang dipegang oleh Imam Ahmad adalah mentakwilkan hadits sebagaimana takwilnya para salaf. Jika para salaf tidak mentakwilkannya maka ia pun tidak mentakwilnya”. (Masha’ibul Insan Min Makaidisy-Syayatin : 144, lihat pula Wiqayatul Insan Minal Jin Was Syayatin : 45 oleh Syaikh Wahid Abdussalam bali, Al-Qaulul Mu’in : 243-244 oleh Syaikh Abul Bara’ Usamah bin Yasin).

Al-Imam Ibnu Khuzaimah menguatkan pendapat bahwa setan yang dibelenggu hanya sebagiannya saja, tidak seluruhnya. Beliau menyatakan :

باب ذكر البيان أن النبي صلى الله عليه وسلم إنما أراد بقوله وصفدت الشياطين مردة الجن منهم لا جميع الشياطين إذ اسم الشياطين قد يقع على بعضهم

“Bab penyebutan penjelasan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan ucapan beliau ‘dan setan-setan dibelenggu’ maksudnya adalah dedengkotnya syetan bukan seluruh setan. Karena istilah setan kadang dimaksudkan sebagiannya saja”.

c). Di bulan Ramadhan terdapat malam Lailatul Qadar

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;

أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ ، وَتُغَلُّ فِيهِ مِرَدَةُ الشَّيَاطِينِ ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah ta’ala mewajibkan puasa di dalamnya, pintu-pintu langit dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, dedengkot-dedengkot setan dibelengu. Di dalamnya Allah memiliki sebuah malam yang lebih utama dari seribu bulan, barangsiapa diharamkan dari mendapatkan kebaikannya maka sungguha ia orang yang rugi”. (HR Ahmad : 9213, An-Nasa’i : 2106, dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa’i : 1992).

Wallahu a’lam

Ketika proses mengekang hawa nafsu yang bergejolak di dada, dan menjaga jiwa dari segala hal yang bisa mengotorinya merupakan satu hal yang sangat berat. Maka perintah kewajiban puasa baru diberlakukan pada tahun kedua setelah hijrah. Kewajiban inipun tidak serta merta diberlakukan. Namun ada melalui jenjang dan periode.

Ketika hati-hati para sahabat sudah mulai kokoh berpegang dengan ajaran tauhid dan mengagungkan syi’ar-syiar Allah. Lantas Allah ta’ala mensyariatkan puasa dengan Takhyir/Optional, maknanya kaum muslimin boleh memilih untuk puasa atau tidak puasa namun menggantinya dengan Fidyah. Dan Allah menjelaskan bahwa yang paling utama dari keduanya adalah berpuasa. Allah berfirman :

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) ; memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah : 184).

Setelah itu baru kemudian Opsi/Kesempatan memilih antara puasa dan tidak ini dihapus oleh Allah dengan turunnya surat Al-Baqarah ayat ; 185 ;

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

(QS.  Al Baqarah: 185).

Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu berkata ;

لما نزلت وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين كان من أراد منا أن يفطر ويفتدي حتى نزلت الآية التي بعدها فنسختها

“Ketika turun ayat ‘Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankan puasa, maka ia  membayar fidyah (berupa) memberi makan seorang miskin’. Barangsiapa diantara kami ingin berbuka (tidak puasa) maka ia membayar fidyah. Hingga turun ayat setelahnya yang menghapus keringanan ini”. (Shahih Sunan Abu Dawud : 2315).

Ibnu Abi Laila radhiyallahu ‘anhu juga berkata hal serupa : “Para sahabat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepadaku ; bulan Ramadhan turun dan terasa berat bagi mereka puasa. Maka ada yang memberi makan setiap hari seorang miskin lalu ia meninggalkan puasa bagi yang kepayahan dan mereka diberi keringanan dengan itu. Kemudian keringanan ini dihapus dengan firman Allah ‘Dan puasa itu lebih baik bagi kalian’, merekapun lantas diperintahkan untuk berpuasa”. (HR. Muslim : 16).

Setelah itu puasa menjadi kewajiban dan menjadi salah satu pokok diantara pokok-pokok agama Islam berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ;

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan.”. (HR Bukhari : 8).

Wallahu a’lam

Syariat islam adalah syariat yang bijaksana, senantiasa memotivasi umatnya untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan dengan menjelaskan keutamaan-keutamaan puasa serta tingginya kedudukan puasa. Meskipun seorang hamba memiliki dosa sebanyak buih di lautan, Allah akan anugrahkan ampunan dari sisi-Nya dengan lantaran sebab ibadah puasa yang mulia lagi penuh berkah ini. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

“Shalat wajib yang lima, dan jumat ke jumat berikutnya menjadi penghapus dosa-dosa yang ada diantara keduanya selama menjauhi dosa besar”. (HR. Muslim : 233).

Dan puasa di bulan ramadhan ini menjadi kesempatan langka bagi kita yang ingin memanjatkan keinginan yang sudah lama didamba namun belum di-ijabah. Ia juga menjadi kesempatan emas bagi setiap muslim untuk mendapatkan predikat mulia nan tinggi, predikat bebas dari sengatan api neraka kelak di akhirat. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إن لله  تبارك وتعالى  عتقاء في كل يوم وليلة في رمضان  وإن لكل مسلم في كل يوم دعوةً مستجابة

“Sesungguhnya Allah ta’ala pada setiap hari dan setiap malam di bulan Ramadhan membebaskan dari neraka, dan diberikan bagi setiap musim pada setiap hari doa yang mustajab”. (HR Ahmad : 2/254 no. 664 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahihut Targhib Wat Tarhib : 1002).

Dan dengan puasa Ramadhan ini seseorang bisa meraih derajatnya para syuhada’ yang wafat di jalan Allah, serta meraih derajatnya para shiddiqin. Suatu ketika datang seorang lelaki kepada nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْتَ إِنْ شَهِدْتُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَأَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ ، وَصَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ ، وَأَدَّيْتُ الزَّكَاةَ ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ ، وَقُمْتُهُ ، فَمِمَّنْ أَنَا ؟

“Wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam apa pendapatmu jika aku bersyahadat tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhhamad adalah utusan Allah, dan aku shalat lima waktu, aku membayar zakat berpuasa ramadhan dan shalat malam di dalamnya, maka aku termasuk golongan manusia yang mana?

قَالَ-صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : ” مِنَ الصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ “

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Kamu termasuk golongan para shiddiqin dan para syuhada’”. (HR. Ibnu Hibban : 19 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahihut Targhib Wat Tarhib : 1003).

Wallahu a’lam

Begitu pula sebaliknya Allah menyiapkan siksa yang tak terperi bagi umatnya yang dengan pongah dan sombong berpaling dari perintah Allah. Meninggalkan perintah puasa wajib di bulan Ramadhan. Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

بينا أنا نائم إذ أتاني رجلان ، فأخذا بضبعي، فأتيا بي جبلا وعرا ، فقالا : اصعد ، فقلت : إني لا أطيقه ، فقالا : إنا سنسهله لك ، فصعدت حتى إذا كنت في سواء الجبل إذا بأصوات شديدة ، قلت : ما هذه الأصوات ؟ قالوا : هذا عواء أهل النار ، ثم انطلق بي ، فإذا أنا بقوم معلقين بعراقيبهم ، مشققة أشداقهم ، تسيل أشداقهم دما قال : قلت : من هؤلاء ؟ قال : هؤلاء الذين يفطرون قبل تحلة صومهم

”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata, ‘Naiklah’. Lalu kukatakan, ‘Sesungguhnya aku tidak mampu.’

Kemudian keduanya berkata, ‘Kami akan memudahkanmu’. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu  aku bertanya, ‘Suara apa itu?’ Mereka menjawab,’Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.’

Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku melihat orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah.

Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya,’Siapakah mereka itu?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.’ (HR. Ibnu Hibban : 1800 dinyatakan shahih oleh Imam Al-Albani dalam Shahihut Targhib Wat Tarhib : 1005).

Demikian mengerikan balasan bagi orang-orang yang membatalkan puasa tanpa udzur. Lantas bagaimana kelak nasib orang-orang yang dengan sengaja meninggalkan puasa wajib. Bahkan ada yang dengan pongah dan bangganya mereka makan dan minum terang-terangan sembari mencibir hamba-hamba Allah yang lemah karena puasa dengan kata-kata yang sangat tidak pantas diucapkan. Semoga Allah karuniakan pada kita dan mereka hidayah serta keistiqamahan dari sisi-Nya.

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah ta’ala hendaknya kita faham bahwa pahala, keutamaan, kebaikan serta keistimewaan puasa dan bulan Ramadhan yang telah kita baca dan pelajari bersama itu sangat tergantung pada kecocokan ibadah puasa kita dengan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kita tidak akan mendapatkannya sama sekali kecuali jika kita mengikuti apa yang telah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam jelaskan serta mengikuti apa yang telah beliau praktekkan, berupa hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah puasa dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

Maka dari itu kita akan bersama-sama mempelajarinya dengan tanpa disertai sikap taklid/mengekor tanpa arah. Namun kita akan mempelajari hukum-hukum tersebut dengan berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para salafush shalih dari kalangan Imam yang empat serta dan para imam sebelum mereka dari kalangan para tabi’in dan sahabat insya’Allah.

Penetapan awal dan akhir bulan ramadhan ada beberapa metode, kami nukilkan dalam point-point sebagai berikut urutan metode-metode tersebut sesuai dengan urutan/tartibnya :

  • Ru’yatul Hilal/melihat hilal

Hukum asal penetapan awal bulan di dalam syariat islam adalah dengan ru’yatul hilal (melihat hilal) sebagaimana firman Allah ta’ala :

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمْ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Karena itu, barangsiapa di antara kalian yang menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa di bulan itu.”

(QS. Al-Baqarah : 185).

Imam Ibnu Katsir berkata menafsirkan firman Allah ini :

هذا إيجاب حتم على من شهد استهلال الشهر

“Ini adalah kewajiban yang harus bagi orang yang telah berhasil melihat hilal bulan itu”. (Tafsir Ibnu Katsir : 239).

  • Ketika Cuaca Mendung

Kemudian ketika terjadi mendung, sehingga kita tidak mungkin melakukan ru’yatul hilal (melihat hilal), syariat sudah memberikan solusi/jalan keluar dari sisi Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Atau dengan kata lain kita berpindah kepada metode yang kedua yang dikatakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut :

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ، فَأَكْمِلُوْا شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ

“Puasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah karena melihat hilal. Jika kalian terhalangi awan, sempurnakanlah bulan Sya’ban tiga puluh hari.” (HR. Bukhari : 1910, Muslim : 1081).

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, (bahwasanya) Rasulullah ahallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَتَصُوْمُوْا حَتَّى تَرَوُا الْهلاَلَ، وَلاَ تُفطِرُوْا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ، فَاَقْدِرُوْالَهُ

“Janganlah kalian puasa hingga melihat hilal, jangan pula kalian berbuka hingga melihatnya (hilal). Jika kalian terhalangi awan, hitunglah bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari : 4/106 dan Muslim : 1080).

Dari sini kita tahu bahwa ketika cuaca mendung, kita tidak lantas mengambil metode sendiri atau berinisiatif sendiri, karena ini urusan agama, urusan wahyu, maka kita harus kembali kepada wahyu. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan berdasarkan hadits-hadits di atas ketika terjadi mendung untuk menggenapkan jumlah bilangan bulan Sya’ban menjadi tuga puluh hari. Dan kita tidak memakai ru’yah lagi, pun kemudian keberadaan hilal tidak diperhitungkan  pada kondisi ini wallahu a’lam.

  • Melaporkan hasil ru’yatul hilal kepada penguasa

Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma sebagai berikut, ia berkata :

تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلاَلَ فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنِّى رَأَيْتُهُ فَصَامَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ

“Orang-orang berusaha untuk melihat hilal, kemudian aku beritahukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku telah melihatnya. Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan orang-orang agar berpuasa.” (HR. Abu Dawud : 2342, dishahihkan Imam Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud : 2028, Irwa’ul Ghalil : 908).

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma seorang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang juga seorang ulama. Beliau melihat hilal dengan kedua biji mata beliau, bukan mendengar dari hasil penglihatan orang lain. Apa yang beliau lakukan ? apakah ia lantas mengumumkan hasil penglihatannya kepada kaum muslimin dan mengajak mereka berpuasa ? Jawabnya tidak.

Namun beliau melaporkan hasil penglihatan beliau kepada penguasa kala itu yaitu Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Nabi pun menerima hasil ru’yatul hilal tersebut, lantas beliau berpuasa dan memerintahkan manusia untuk mulai berpuasa.

  • Jika penguasa tidak menerima hasil ru’yatul hilal

Bagaimana sikap kita jika kita sudah berhasil melihat hilal secara langsung (bukan dari berita internet, TV, radio atau yang lain) namun hasil ru’yatul hilal kita ditolak oleh penguasa. Tetap kita kembali kepada dalil dan sikap para salafush shalih. Hal ini pernah terjadi di masa Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu sebagaimana yang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah katakan :

وقد روى أن رجلين في زمن عمر بن الخطاب – رضي الله عنه – رأيا هلال شوال فأفطر أحدهما ولم يفطر الآخر فلما بلغ ذلك عمر قال: للذي أفطر لولا صاحبك لأوجعتك ضربا والسبب في ذلك أن الفطر يوم يفطر الناس وهو يوم العيد

“Telah diriwayatkan bahwa pada zaman ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ada dua lelaki yang melihat hilal syawwal (dengan matanya langsung-pent). Maka salah seorang dari mereka berbuka dan yang seorang lagi tidak berbuka.

Ketika khabar tersebut sampai ke ‘Umar, ia berkata kepada orang yang berbuka (tidak ikut keputusan penguasa-pent): ‘kalau bukan karena temanmu, tentu aku sudah memukulmu.’ Penyebab dari hal ini ialah karena hari berbuka itu adalah hari dimana manusia berbuka yaitu hari raya.” (Majmu’ Fatawa : 25/205).

Kita perhatikan, seorang yang melihat hilal langsung dengan kedua biji matanya. Namun ketika melaporkan hasil ru’yah-nya ternyata ditolak oleh Umar radhiyallahu ‘anhu. Dan ia nekat menyelisihi keputusan penguasa kala itu karena sudah melihat hilal syawwal.

Maka Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika mengetahui hal ini ia pun memarahinya dan hampir-hampir memukulinya. Ini menjadi petunjuk bagi kita semua jika kita mengalami hal serupa, maka hendaknya sikap kita adalah sebagaimana sikap yang diridhai oleh Umar radhiyallahu ‘anhu yaitu tetap mengikuti keputusan pemerintah dalam hal ini.

  • Kesalahan ditanggung penguasa

Sebenarnya jika kita mengikuti dalil-dalil di atas yang berujung pada satu kesimpulan bahwa permulaan Ramadhan dan hari raya itu dengan mengikuti keputusan penguasa, justru akan semakin ringan, mudah dan persatuan kaum muslimin dapat terwujud.

Seandainya ternyata keputusan penguasa tersebut salah maka kesalahannya akan ditanggung oleh penguasa. Adapun kita sebagai rakyat tidak ikut menanggung dosa dan kesalahannya, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يُصَلُّوْنَ لَكُمْ، فَإِنْ أَصَابُوْا فَلَكُمْ وَلَهُمْ، وَإِنْ أَخْطَأُوْا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

“Mereka shalat mengimami kalian. Apabila mereka benar, kalian dan mereka mendapatkan pahala. Apabila mereka keliru, kalian mendapat pahala sedangkan mereka mendapat dosa.” (HR. Bukhari : 694).

Di samping itu kita tidak diperkenankan untuk berpuasa pada hari syak/hari yang meragukan (ragu apakah hari itu hari terakhir bulan sya’ban atau hari pertama bulan ramadhan) dengan cara berpuasa sebelum ramadhan satu atau dua hari sebelumnya berdasarkan hadis :

لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ

“Janganlah salah seorang dari kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya. Keculai bagi lelaki yang terbiasa puasa maka hendaknya ia berpuasa pada hari tersebut”. (HR. Muslim : 573).

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يَشُكُّ فِيهِ النَّاسُ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa berpuasa pada hari yang manusia ragu di dalamnya, maka ia telah bermaksiat kepada Abul Qasim shalallahu ‘alaihi wa sallam”.

Namun jika hari tersebut telah ditetapkan oleh penguasa akan status kejelasannya, seperti penguasa menetapkan hari ini adalah awal Ramadhan misalnya, maka kita mengikuti ketetapan penguasa, Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan :

وأصح هذه الأقوال هو التحريم ، ولكن إذا ثبت عند الإمام وجوب صوم هذا اليوم وأمر الناس بصومه فإنه لا ينابذ وتحصل عدم منابذته بألا يُظهر الإنسان فطره ، وإنما يُفطر سراً

“Pendapat yang paling benar dari sekian banyak pendapat ini ialah puasa di hari Syak/meragukan itu haram hukumnya. Tapi apabila telah jelas keputusan penguasa wajibnya puasa di hari  tersebut dan penguasa memerintahkan manusia untuk berpuasa di hari itu, maka hal ini tidak boleh ditentang”. (Asy-Syarhul Mumti’: 6/318).

Keputusan ini pulalah yang ditetapkan oleh Majelis Ulama Indonesia dalam fatwa yang mereka rilis. Diantara point keputusan fatwa yang disebutkan di sana adalah:

“MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : FATWA TENTANG PENETAPAN AWAL RAMADHAN, SYAWAL, DAN DZULHIJJAH

Pertama : Fatwa

Penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode ru’yah dan hisab oleh Pemerintah RI cq Menteri Agama dan berlaku secara nasional.

Seluruh umat Islam di Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Dalam menetapkan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, Menteri Agama wajib berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam dan Instansi terkait.

Hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat walaupun di luar wilayah Indonesia yang mathla’nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama RI.”

Fatwa ini ditanda tangani oleh ketua komisi fatwa MUI KH Ma’ruf Amin, dan juga sekertaris komisi fatwa MUI Bapak Hasanudin.

(Sumber : Fatwa MUI nomor ; 2 Tahun 2004 tentang penetapan awal Ramadhan, Syawaal dan Dzulhijjah).

Wallahu a’lam

Syarat puasa itu ada tiga macam

a). Syarat wajibnya puasa :

  • Baligh/telah mencapai usia dewasa.

Puasa tidak wajib bagi anak kecil yang  belum baligh meskipun ia mampu melaksanakannya berdasarkan hadis :

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ ، عَنِ الْمَجْنُونِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ

“Pena diangkat dari tiga golongan manusia; dari orang gila yang hilang akal, dari orang yang tidur hingga ia bangun dan dari anak kecil hingga ia baligh/dewasa”. (HR Abu Dawud: 4399 dan Ibnu Hibban : 1497 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil: 2/5).

Dan baligh/kedewasaan ini ditandai dengan beberapa tanda sebagaimana keterangan Imam Ibnu Utsaimin sebagai berikut:

والبلوغ يحصل بواحد من ثلاثة بالنسبة للذكر: إتمام خمس عشرة سنة وإنبات العانة، وإنزال المني بشهوة، وللأنثى بأربعة أشياء هذه الثلاثة السابقة ورابع، وهو الحيض، فإذا حاضت فقد بلغت حتى ولو كانت في سن العاشرة

“Baligh/kedewasaan diketahui dengan tiga tanda pada lelaki ; menggenapkan usia 15 tahun, tumbuhnya rambut di sekitar kemaluan, keluarnya mani dengan syahwat.

Dan untuk wanita kedewasaan mereka diketahui dengan empat tanda; tiga tanda yang sudah berlalu dan tanda yang keempat adalah haidh. Apabila seorang wanita haidh maka ia telah dewasa meski usianya masih sepuluh tahun”. (Asy-Syarhul Mumti’ : 6/323).

Meski demikian puasa anak kecil yang belum baligh asalkan sudah tamyiz (akan datang keterangan makna tamyiz insya’Allah) maka sah puasanya dan ia mendapatkan pahala atasnya. Imam Ibnu Baz berkata :

أعمال الصبي الذي لم يبلغ  أعني أعماله الصالحة  أجرها له هو لا لوالده ولا لغيره ولكن يؤجر والده على تعليمه إياه وتوجيهه إلى الخير وإعانته عليه لما في صحيح مسلم عن ابن عباس رضي الله عنهما أن امرأة رفعت صبياً إلى النبي صلى الله عليه وسلم في حجة الوداع فقالت: يا رسول الله ألهذا حج؟ قال :  (نعم ولك أجر) . فأخبر النبي صلى الله عليه وسلم أن الحج للصبي وأن أمه مأجورة على حجها به.

وهكذا غير الولد له أجر على ما يفعله من الخير كتعليم من لديه من الأيتام والأقارب والخدم وغيرهم من الناس؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم : (من دل على خير فله مثل أجر فاعله) رواه مسلم في صحيحه؛ ولأن ذلك من التعاون على البر والتقوى، والله سبحانه يثيب على ذلك.

“Amal anak kecil yang belum baligh (dewasa) maksudku amal shalihnya, maka pahalanya bagi dia sendiri bukan untuk kedua orang tuanya, bukan pula untuk orang lain. Akan tetapi kedua orang tuanya diberikan pahala atas pengajaran dan arahan mereka berdua kepada anaknya kepada kebaikan serta motivasi keduanya terhadap anaknya.

Hal ini berdasarkan riwayat yang ada di dalam Shahih Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, bahwa seorang wanita mengangkat seorang anak kehadapan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pada peristiwa haji wadda’ dan ia berkata ; ‘wahai Rasulullah apakah anak ini sah hajinya?’. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab ; ‘iya, dan engkau juga mendapatkan pahala’. (HR. Muslim : 1336).

Demikian pula mendidik anak yang bukan anak kandungnya, seseorang akan mendapatkan pahala atas kebaikan yang ia lakukan. Seperti seseorang yang mengajari orang yang ada di sisinya baik itu anak yatim, karib kerabat atau pembantu dan yang lainnya. Berdasarkan hadis Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Orang yang menunjukkan jalan kebaikan maka baginya pahala pelaku kebaikan tersebut’. (HR. Muslim : 1893).

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim di kitab shahihnya, dan karena di dalamnya terdapat unsur tolong-menolong di dalam kebaikan dan taqwa dan Allah subhanahu wa ta’ala memberikan pahala atasnya”. (Fatawa Syaikh Bin Baz no. 664).

  • Mampu

Dan puasa tidak wajib bagi orang yang tidak mampu melaksanakannya karena faktor usia tua atau karena sakit. Allah ta’ala berfirman :

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan bagi orang yang terasa berat melaksanakannya maka ia membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin.”

(QS. Al-Baqarah : 184).

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata :

ليست بمنسوخة , هو الشيخ الكبير والمرأة الكبيرة لا يستطيعان أن يصوما , فليطعما مكان كل يوم مسكينا

“Ayat ini tidak dihapus, dan ia berlaku untuk kakek yang tua renta dan nenek yang tua renta yang tidak mampu melaksanakan puasa, maka keduanya memberi makan setiap harinya satu orang miskin”. (HR Daraquthni : 249 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil : 4/17 no. 912).

  • Mukim atau tidak sedang bersafar.

Orang yang sedang bersafar/bepergian jauh tidak wajib puasa, ia boleh membatalkan puasanya dan menggantinya di hari yang lain. Berdasarkan firman Allah ta’ala:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka barangsiapa salah seorang dari kalian sakit atau sedang bepergian jauh ia mengganti di hari yang lain”.

(QS. Al-Baqarah : 184).

Adapun batasan minimal jarak yang disebut safar, tidak ada dalil dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang menyebutkan batasan minimal dengan pasti dan tegas. Ketika batasan minimal tidak disebutkan oleh syariat maka pendapat yang lebih benar, batasan tersebut dikembalikan kepada ‘Urf atau kebiasaan masing-masing daerah. Imam Ibnu ‘Utsaimin berkata :

المسافة التي تقصر فيها الصلاة حددها بعض العلماء بنحو ثلاثة وثمانين كيلو مترا ، وحددها بعض العلماء بما جرى به العرف أنه سفر وإن لم يبلغ ثمانين كيلو مترا ، وما قال الناس عنه : إنه ليس بسفر ، فليس بسفر ولو بلغ مائة كيلو متر. وهذا الأخير هو اختيار شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله ، وذلك لأن الله تعالى لم يحدد مسافة معينة لجواز القصر وكذلك النبي صلى الله عليه وسلم لم يحدد مسافة معينة .

“Jarak safar yang membolehkan seseorang untuk mengqashar shalat (demikian pula meninggalkan puasa-pent) ditetapkan oleh sebagian ulama sekitar 80 KM. Sebagian ulama lagi membatasinya dengan ‘Urf/kebiasaan masyarakat meski belum mencapai 80KM. Apa yang dikatakan oleh manusia bahwa itu bukan safar, maka ia bukan safar meski jauhnya jarak mencapai 100 KM.

Pendapat terakhir inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -semoga Allah senantiasa merahmati beliau-. Hal itu karena Allah ta’ala tidak menetapkan adanya jarak tertentu untuk seseorang boleh mengqashar shalat. Demikian pula Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatasi jarak tertentu”. (Fatawa Arkanil Islam : 381).

b). Syarat sahnya puasa

  • Niat

Apabila telah jelas status suatu hari bahwa ia adalah awal Ramadhan baik dengan ru’yatul hilal, atau dengan persaksian atau dengan menggenapkan jumlah hari bulan sya’ban, maka seorang muslim wajib memulai niatnya pada malam hari pertama di bulan ramadhan sebagaimana sabda nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَلا صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa tidak melakukan niat sejak dari malam, maka tidak ada puasa baginya”. (HR Tirmidzi : 730, Nasa’i : 2334, dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi : 583).

Niat ini letaknya di hati, tidak perlu diucapkan dengan lisan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

ومن خطر بقلبه أنه صائم غداً فقد نوى

“Barangsiapa terbetik di dalam hatinya keinginan untuk berpuasa di esok hari, maka ia telah berniat”. (Al-Ikhtiyarat Al-Fiqhiyyah : 1/191).

Syaikh DR. Musthafa Al-Khin berkata :

وهي قصد الصيام، ومحلها القلب، ولا تكفي باللسان، ولا يشترط التلفظ بها، ودليل وجوب النية قوله – صلى الله عليه وسلم – ” إنما الأعمال بالنيات “

“Dan niat itu maknanya bermaksud untuk melaksanakan puasa, niat letaknya di hati, tidak cukup diucapkan lisan dan tidak disyaratkan untuk diucapkan. Dalil kewajibannya ialah sabda nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ; “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya”. (HR Bukhari : 1, Muslim : 1907). (Lihat Al-Fiqhul Manhaji ‘Ala Madzhab Imam Asy-Syafi’i : 2/282).

Kumpulan ulama’ besar di kerajaan Saudi Arabia yang tergabung dalam Lajnah Da’imah berfatwa :

تكون النية بالعزم على الصيام ، ولا بد من تبييت نية صيام رمضان ليلاً كل ليلة

“Niat puasa itu dengan berazam kuat untuk melakukan puasa dan niat puasa ramadhan harus di lakukan pada malam di setiap harinya”. (Fatawa Lajnah Da’imah : 10/246).

Hukum ini (keharusan niat di malam hari) berkaitan dengan puasa wajib atau puasa Ramadhan. Adapun puasa sunnah maka tidak disyaratkan niat di malam hari sebelum subuh. Maknanya jika seseorang pada suatu hari tidak memiliki niat puasa sama sekali, dan ia sejak subuh hingga siang belum makan, belum minum, belum melakukan pembatal puasa. Kemudian ia berniat puasa di siang hari maka sah puasanya. Dan hukum ini khusus berlaku untuk puasa sunnah, dalinya riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha berikut ini :

دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ ، فَقَالَ :  هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ ، فَقُلْنَا : لَا ، قَالَ : فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ ، ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ ، فَقُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أُهْدِيَ لَنَا حَيْسٌ ، فَقَالَ : أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا ، فَأَكَلَ

“Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumahku pada suatu hari, beliau bertanya ; ‘Apakah engkau memiliki makanan?’. Kami mengatakan ; ‘Tidak’.

Beliau lantas bersabda ; ‘Jika demikian aku akan berpuasa saja’. Kemudian beliau mendatangi kami pada hari yang lain, kamipun mengatakan ; ‘Wahai rasulullah kami diberi hadiah berupa Hais (roti campuran dari kurma, gandum, susu, keju, minyak samin)’. Beliau berkata ; ‘Berikan kepadaku sejak tadi pagi aku puasa’, lantas beliau makan”.  (HR. Muslim : 1958).

Namun ada hal yang perlu diperhatikan dalam masalah memulai niat puasa di siang hari ini. Sebagian ulama mengatakan bebas memulai niat kapan saja selama belum melakukan pembatal puasa di hari tersebut. Sebagian ulama yang lain mensyaratkan mulai niat puasa ini hendaknya dilakukan maximal beberapa saat sebelum waktu zawal/tergelincirnya matahari/beberapa saat sebelum dzuhur. Pendapat yang kedua inilah yang benar, wallahu a’lam.

  • Tamyiz/Mumayyiz

Tidak sah puasa anak-anak yang belum mumayyiz/belum bisa membedakan mana aurat mana bukan. Imam Mahmud bin Abdillah Al-Husaini Al-Alusi berkata menuturkan penjelasan tentang kriteria anak yang belum mumayyiz :

الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلى عَوْراتِ النِّساءِ أي الأطفال الذين لم يعرفوا ما العورة ولم يميزوا بينها وبين غيرها

“Yaitu anak yang belum tampak pada mereka aurat wanita. Maknanya ialah anak-anak yang belum mengetahui apa itu aurat dan belum mampu membedakan mana aurat mana bukan”. (Tafsir Ruhul Ma’ani : 9/339).

  • Waktu Puasa

Tidak sah puasa yang dilakukan pada hari-hari yang terlarang seperti orang berpuasa pada hari raya Idul Fitri misalnya berdasarkan riwayat dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu beliau berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ النَّحْرِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada dua hari yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Muslim : 1138).

c). Syarat  Wajib Dan Sahnya Puasa Sekaligus

  • Islam

Maka orang kafir tidak wajib melaksanakan puasa, karena khitab (lawan bicara) yang Allah tujukan kepada mereka perintah puasa adalah orang-orang yang beriman, sebagaimana yang tersebut dengan jelas di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat : 183 yang terkenal itu. Seandainya mereka puasa, tidak sah puasa mereka dan tidak diterima oleh Allah ta’ala.

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Seandainya engkau berbuat syirik maka akan terhapus semua amalmu dan kelak engkau termasuk golongan orang-orang yang merugi”.

(QS.Az-Zumar : 65).

Dan jika mereka masuk islam maka tidak ada kewajiban untuk mengqadha’/mengganti puasa Ramadhan yang selama ini mereka tinggalkan, hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala :

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّتُ الْأَوَّلِينَ

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu.”

(QS. Al-Anfal : 38).

  • Berakal

Orang yang tidak berakal karena faktor apapun, tidak wajib puasa berdasarkan hadits yang sudah kita sebutkan di atas :

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ ، عَنِ الْمَجْنُونِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ

“Pena diangkat dari tiga golongan manusia ; dari orang gila yang hilang akal, dari orang yang tidur hingga ia bangun dan dari anak kecil hingga ia baligh/dewasa”. (HR Abu Dawud : 4399 dan Ibnu Hibban : 1497 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil : 2/5).

Syaikh Abdul Karim Al-Khudhair berkata :

وفرق بين النوم وبين الجنون والإغماء، الجنون يرفع التكليف بخلاف النوم، الإغماء هل يلحق بالجنون أو بالنوم؟ أهل العلم فصلوا فقالوا: إن كان الإغماء أكثر من ثلاثة أيام فهو في حكم الجنون، بمعنى أنه لا يؤمر بقضاء، الإغماء يعني لو نفترض أن شخصاً أدخل العناية المركزة ولا يحس بشيء لمدة خمسة أيام أسبوع شهر أو أكثر، ما يقال: إذا أفاق لا يلزمه شيء، لا يلزمه قضاء شيء، لكن لو أغمي عليه يوم أو يومين يقضي ما فاته؛ لأن مثل هذا الإغماء لأنهم جعلوا الثلاثة حد للكثرة والقلة، فالقليل من الإغماء حكمه حكم النوم، والنائم يلزمه أن يقضي ما فاته، ومثله من أغمي عليه أقل من ثلاثة أيام، وأما من أغمي عليه أكثر من ثلاثة أيام وطال به الإغماء فحكمه حكم المجنون يرتفع عنه التكليف.

“Para ulama membedakan antara tidur dengan gila dan juga pingsan. Orang yang gila diangkat darinya kewajiban agama berbeda dengan orang yang tidur. Apakah pingsan disamakan hukumnya dengan tidur ?

Para ahli ilmu merinci, apabila durasi pingsan lebih dari tiga hari, maka ia dihukumi sama dengan kasus orang gila. Maknanya ia tidak diperintahkan untuk mengqadha’ puasa. Orang yang pingsan taruhlan ada orang yang opaname di ruang UGD, ia tidak merasakan apa-apa (koma) selama lima hari atau sepekan atau sebulan dikatakan ; ia tidak memiliki kewajiban apa-apa, ia tidak harus meangqadha’ apapaun.

Akan tetapi jika ia pingsan selama sehari atau dua hari, maka ia mengqadha’ puasa yang terlewat. Karena jenis pingsan seperti ini para ulama menjadikan jumlah tiga hari ini sebagai standard banyak dan sedikitnya pingsan seseorang. Maka pingsan yang sedikit hukumnya sama dengan tidur. Dan orang yang tidur itu memiliki kewajiban untuk mengqadha’ puasa yang terlewat. Demikian pula sama hukumnya orang yang pingsan kurang dari tiga hari.

Adapun yang pingsan lebih dari tiga hari dan berkelanjutan maka hukumnya disamakan dengan hukum orang yang gila, kewajiban agama terangkat dari dia”. (Syarah Zadil Mustaqni’ Syaikh Abdul Karim Al-Khudhair : 3/5) .

  • Suci dari haidh dan nifas

Dalil bahwasanya wanita haidh dan nifas tidak boleh melaksanakan puasa ialah riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha sebagai berikut :

كُنَّا نَحِيضُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ , وَلا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاةِ

“Kami mengalami haidh di masa rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat”. (HR. Muslim : 335).

Hadis ini menunjukkan puasa haram bagi wanita yang sedang haidh maupun nifas, dan mereka memiliki kewajiban untuk mengganti puasa di hari yang lain. Imam Nawawi menyatakan :

أَجْمَعَتْ الأُمَّةُ عَلَى تَحْرِيمِ الصَّوْمِ عَلَى الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ , وَعَلَى أَنَّهُ لا يَصِحُّ صَوْمُهَا…وَأَجْمَعَتْ الأُمَّةُ أَيْضًا عَلَى وُجُوبِ قَضَاءِ صَوْمِ رَمَضَانَ عَلَيْهَا , نَقَلَ الإِجْمَاعَ فِيهِ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ الْمُنْذِرِ وَابْنُ جَرِيرٍ وَأَصْحَابُنَا وَغَيْرُهُمْ

“Ulama umat Islam telah bersepakat akan haramnya puasa bagi wanita haidh dan nifas dan bahwasanya tidak sah puasa keduanya dan mereka bersepakat pula bahwa keduanya wajib mengqadha’ puasa Ramadahan di hari yang lain. Kesepakatan ini dinukil pula oleh Tirmidzi, Ibnul Mundzir, Ibnu Jarir, para sahabat kami dan yang lainnya ”.

Wallahu a’lam

Para ulama berselisih pendapat tentang apakah niat itu menjadi syarat puasa ataukah rukun puasa. Dan jika kita letakkan niat sebagai syarat puasa (sudah berlalu pembahasan niat) maka tidak tersisa rukun puasa kecuali satu, yaitu Imsak.

Imsak ialah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dimulai dari terbitnya fajar shadiq hingga terbenamnya matahari. Allah ta’ala berfirman ketika menjelaskan durasi puasa :

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالْئَانَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَاكَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى الَّيْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu.

Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.”

(QS Al-Baqarah: 187).

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata ; “Fajar itu ada dua, adapun yang  pertama ia tidak mengharamkan makan (sahur-pent) dan tidak membolehkan shalat (shalat subuh-pent). Adapun fajar yang kedua ia mengharamkan makan dan menghalalkan shalat”. (HR Ibnu Khuzaimah : 3/210, Al-Hakim : 1/191 dinyatakan shahih oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halaby di dalam kitab Shifatush Shaumin Nabi : 37).

Fajar yang pertama ini disebut fajar kadzib, sedang yang kedua di sebut fajar shadiq. Kemudian syaikh Ali Hasan Al-Halabi berkata menerangkan perbedaan antara keduanya :

اعلم أيها الموفق إلى طاعة ربه أن أوصاف الفجر الصادق هي التي تتفق والآية الكريمة حتى يتبين لنا الخخيط الأبيض من الأسود من الفجر فإن ضوء الفجر إذا اعترض في الأفق على الشعاب ورؤوس الجبال  ظهر كأنه خيط أبيض وظهر من فوقه خيط أسود وهو بقايا ظلام الذي ولى مدبرا

“Ketahuilah wahai hamba Allah yang diberikan taufik untuk mentaati Rabb-nya, bahwa sifat fajar itu adalah yang sesuai dengan firman Allah ‘Hingga menjadi jelas benang putih dari benang hitam berupa fajar’. Karena sesungguhnya cahaya fajar itu apabila mulai muncul di ufuk timur, di puncak gunung ia akan tampak seperti benang putih dan tampak pula di atasnya benang hitam berupa sisa-sisa gelapnya malam yang masih mendominasi”. (Shifatush Shaumin Nabi : 38).

Dan sebagaimana kita baca dari ayat di atas bahwa batas akhir puasa ialah hingga malam menjelang. Menjelangnya malam ini dimulai dari tenggelamnya bulatan matahari di sisi barat. Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata :

إذا أقبل الليل من هاهنا وأدبر النهار من هاهنا وغربت الشمس فقد أفطر الصائم

“Apabila malam telah menjelang dari sini, dan siang telah berlalu dari sini dan matahari telah tenggelam maka orang yang berpuasa sudah boleh berbuka”. (HR. Muslim : 1100).

Syaikh Ali Hasan Al-Halabi berkata :

وقد يظن بعض الناس أن الليل لا يتحقق بعد غروب الشمس فورا وإنما يدخل بعد انتشار الظلام شرقا وغربا وقد حدث ذلك لبعض أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فأفهم أنه ييكفي أول الظلام من جهة المشرق بعد اختفاء قرص الشمس

“Sebagian manusia menyangka bahwa waktu malam belum benar-benar terwujud setelah tenggelamnya matahari langsung. Akan tetapi malam baru masuk setelah kegelapan menyebar luas di timur dan barat. Hal ini juga terjadi pada sebagian para sahabat nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Lantas Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memahamkan mereka  bahwa malam tandanya cukup dengan awal kali gelap di sisi timur, sesaat setelah bulatan matahari sudah tenggelam”. (Shifatush Shaumin Nabi : 40).

Dari nukilan ayat serta sedikit uraian di atas kita memahami bahwa durasi puasa adalah dimulai dari terbitnya fajar shadiq hingga malam menjelang ditandai dengan tenggelamnya bulatan matahari di sisi barat.

Wallahu a’lam

Awal kali puasa disyariatkan, kaum muslimin diperintahkan untuk melaksanakan puasa dengan aturan dan hukum yang sama dengan puasanya orang-orang ahli kitab sebelum mereka. Dalilnya adalah firman Allah ta’la dalam surat Al-Baqarah :

“Sebagaimana puasa diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian”.

(QS : Al-Baqarah : 183).

Maksud dari orang-orang sebelum kalian (sebelum kaum muslimin) ialah orang-orang ahli kitab. Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu ta’ala berkata :

وفي الذين من قبلنا ثلاثة أقوال: أحدها: أنهم أهل الكتاب، رواه عطاء الخراساني عن ابن عباس، وهو قول مجاهد. والثاني: أنهم النصارى، قاله الشعبي، والربيع. والثالث: أنهم جميع أهل الملل، ذكره أبو صالح عن ابن عباس.

“Dan maksud dari ‘orang-orang sebelum kita’ ada tiga pendapat : pertama mereka adalah ahli kitab, pendapat ini diriwayatkan oleh ‘Atha’ Al-Khurasani dari Ibnu Abbas dan ini juga pendapatnya Mujahid.

Yang kedua mereka adalah orang-orang nasrani, pendapat ini dikatakan oleh Asy-Sya’bi dan Ar-Rabi’.

Yang ketiga mereka adalah seluruh penganut milah/agama terdahulu, ini disebutkan oleh Abu Shalih dari Ibnu Abbas”. (Zadul Masir Fi ‘Ilmit Tafsir : 1/141).

Pendapat yang benar, maksud dari orang-orang sebelum kita adalah ahli kitab dari kalangan yahudi dan nasrani, karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

“Pembeda antara puasa kita dengan puasanya ahli kitab adalah makan sahur”. (HR. Muslim : 1096).

Maka demikianlah para sahabat melaksanakan puasa sama dengan puasanya ahli kitab. Yang di kemudian hari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintahkan para sahabat untuk bersahur agar puasa kaum muslimin tidak sama dengan puasanya ahli kitab.

a). Hukum sahur

Dan sahur ini sunnah hukumnya tidak wajib, semua perintah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk melaksanakan sahur dibawa kepada pengertian mustahab/anjuran. Imam Ibnu Khuzaimah menuliskan salah satu judul bab di dalam kitab beliau : “Bab tentang perintah sahur itu adalah perintah yang sifatnya anjuran dan bukan kewajiban yang mana orang yang meninggalkannya menanggung dosa”. (Shahih Ibnu Khuzaimah : 3/213).

b). Keutamaan dan keberkahan sahur

Dan sahur ini memiliki banyak sekali keutamaan sebagaimana tersebut dalam riwayat-riwayat sebagai berikut :

  1. إنَّ اللَّهَ ، وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur”. (HR Ahmad : 11086 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah : 1654, Shahih At-Targhib Wat Tarhib : 1053).

  1. عَنِ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ ، قَالَ : دَعَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى السُّحُورِ فِي رَمَضَانَ فَقَالَ : هَلُمَّ إِلَى الْغَدَاءِ الْمُبَارَكِ

Dari ‘Irbadh bin Sariyah berkata ; “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengundang aku untuk bersahur di bulan ramadhan dan beliau bersabda ; ‘Mari kita menuju makanan yang penuh berkah”. (HR Abu Dawud : 2344 dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud : 2053).

  1. عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَتَسَحَّرُ ، فَقَالَ : إِنَّهَا بَرَكَةٌ أَعْطَاكُمُ اللَّهُ إِيَّاهَا فَلَا تَدَعُوهُ

Dari sorang lelaki sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata ; Aku masuk ke rumah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang bersahur lantas beliau bersabda : ‘Sesungguhnya sahur ini adalah keberkahan yang Allah berikan kepada kalian, maka jangan kalian tinggalkan ia.” (HR An-Nasa’I : 2162 dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahih At-Targhib Wat Tarbib : 11056).

  1. البركة في ثلاثة : الجماعة والسحور والثريد

“Keberkahan itu ada tiga ; Jama’ah, sahur dan roti Tsarid.” (Shahihut Targhib Wat Tarhib : 1053).

  1. تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

“Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan”. (HR Bukhari : 1789 dan Muslim : 1835).

Dalam beberapa riwayat di atas Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan di dalam sahur itu terdapat keberkahan yang melimpah. Tapi keberkahan seperti apa yang beliau maksudkan, berikut penjelasan dari Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani :

الْبَرَكَةَ فِي السُّحُورِ تَحْصُلُ بِجِهَاتٍ مُتَعَدِّدَةٍ وَهِيَ اتِّبَاعُ السُّنَّةِ وَمُخَالَفَةُ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالتَّقَوِّي بِهِ عَلَى الْعِبَادَةِ وَالزِّيَادَةُ فِي النَّشَاطِ وَمُدَافَعَةُ سُوءِ الْخُلُقِ الَّذِي يُثِيرُهُ الْجُوعُ وَالتَّسَبُّبُ بِالصَّدَقَةِ عَلَى مَنْ يَسْأَلُ إِذْ ذَاكَ أَوْ يَجْتَمِعُ مَعَهُ عَلَى الْأَكْلِ وَالتَّسَبُّبُ لِلذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ وَقْتَ مَظِنَّةِ الْإِجَابَةِ وَتَدَارُكُ نِيَّةِ الصَّوْمِ لِمَنْ أَغْفَلَهَا قَبْلَ أَنْ يَنَامَ

“Keberkahan di dalam sahur itu didapatkan dengan beberapa segi yaitu :

  • Keberkahan berupa mengikuti sunnah,
  • Keberkahan menyelisihi orang-orang ahli kitab dalam puasa mereka,
  • Keberkahan memperkuat diri di dalam beribadah,
  • Keberkahan menambah semangat,
  • Keberkahan menolak akhlak buruk yang terkadang dikobarkan oleh rasa lapar,
  • Sahur juga menjadi sebab seseorang bersedekah jika ada orang lain yang turut sahur bersamanya,
  • Sahur juga menjadi sebab seseorang berdzikir dan berdo’a pada waktu diijabahinya doa,
  • Sahur juga mengingatkan seseorang untuk niat puasa bagi yang melupakannya sebelum ia tidur”. (Fathul Bari : 4/140).

c). Sebaik-baik sahur

Dan makanan sahur yang terbaik ialah dengan kurma, berdasarkan sabda nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Sebaik-baik sahurnya seorang yang beriman adalah kurma”. (HR. Abu Dawud : 2345, Ibnu Hiban : 3475, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah : 562).

Apabila benar-benar tidak ada makanan sama sekali maka kita tetap dianjurkan bersahur meskipun dengan beberapa teguk air putih, nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

السُّحُورُ أَكْلَةٌ بَرَكَةٌ فَلا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

“Sahur itu adalah makanan berkah jangan kalian tinggalkan meski hanya seteguk air. Karena Allah dan para malaikat bershalawat untuk orang-orang yang bersahur”. (HR Ahmad : 11003 dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami; : 3683).

d). Mengakhirkan sahur

Dianjurkan bagi kita untuk mengakhirkan sahur di akhir waktu atau beberapa saat sebelum terbitnya fajar shadiq atau beberapa saat sebelum berkumandangnya adzan shalat subuh. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

بكّروا بالإفطار، وأخّروا السُّحور

“Segerakanlah berbuka dan akhirkanlah sahur”. (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah : 1773).

Dalam riwayat lain beliau juga bersabda :

ثلاث من أخلاق النبوة : تعجيل الإفطار، وتأخير السحور، ووضع اليمين على الشمال في الصلاة

“Ada tiga hal yang merupakan akhlak kenabian ; menyegerakan berbuka, mengkahirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri ketika shalat”. (HR Al-Haithami dalam Majma’uz Zawaaid : 2/105, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ : 3038).

Dan ketika kita sedang makan lalu terdengar suara adzan subuh yang menjadi pertanda fajar shadiq sudah terbit. Kita diijinkan untuk menghabiskan makanan yang ada di dalam piring kita demikian pula minum dengan tanpa kita mengambil tambahan makanan. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمْ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

“Apabila salah seorang dari kalian mendengar suara adzan sedangkan bejana (piring-pent) masih ada di tangannya maka janganlah ia meletakkannya hingga ia menuntaskan makannya”. (HR Abu Dawud : 2350, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud : 2060).

Wallahu a’lam

Hakikat orang yang berpuasa ialah mempuasakan seluruh anggota badannya dari berbuat dosa. Menahan lisan dari berkata dusta, keji dan palsu. Menahan perut dari makan dan minum. Menahan kemaluan dari perbuatan keji, dan jika berkata ia tidak mengucapkan perkataan yang bisa menodai puasanya. Dan jika melakukan sesuatu, ia tidak melakukan hal-hal yang bisa merusak puasa. Sehingga ucapan yang muncul senantiasa indah, dan amal yang dikerjakan senantiasa shalih.

Seperti inilah puasa yang disyariatkan, bukan hanya sekedar menahan lapar, haus dan syahwat semata. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sangat memotivasi umatnya untuk berkahlak mulia, menjauhi perkataan yang buruk, kasar, tidak sopan. Apabila setiap orang Islam diperintahkan untuk menghindar dari sifat-sifat buruk ini di setiap hari, waktu dan kesempatan, maka larangan ini menjadi lebih ditekankan lagi ketika ia sedang melaksanakan ibadah puasa.

Dengan demikian setiap orang islam hendaknya menjauhi hal-hal buruk ini agar ia bisa mengambil manfaat dari puasanya, serta mendapatkan predikat taqwa yang menjadi tujuan utama disyariatkannya puasa sebagaimana firman Allah ta’ala :

“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian puasa sebagaimna ia diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa”.

(QS. Al-Baqarah : 183).

Dan kar