Pertanyaan:
بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Pertanyaan dari Sahabat BiAS:

Ustadz, kakak sepupu ana yang sedang sakit suka mengeluh, berkata kasar pada keluarganya dan mengaduh akan rasa sakit karena tidak kunjung sembuh. Meski dinasihati sabar, dia tetap suka mengeluh. Benarkah kita boleh mengeluh? Sebatas apa? Benarkah kita boleh mengeluh hanya pada Allah saja?

(Disampaikan: admin T07)

Jawaban:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Musibah termasuk bagian dari sunnatullah (ketetapan Allah), diantara musibah adalah sakit. Tak ada di antara kita yang bisa menghindarkan diri dari ketetapan Allah jika Allah sudah berkehendak.

Maka perlu kita telaah hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

لا يصيب المسلم هم ولا غم ولا نصب ولا وصب ( وهو المرض) ولا أذى حتى الشوكة إلا كفر الله بها من خطاياه

“Tidaklah seorang muslim tertimpa kesedihan, kesusahan, penyakit, gangguan walau sekedar tertusuk duri, kecuali pasti Allah akan menjadikannya penghapus dosa-dosa yang ia miliki.” (HR. Al-Bukhari no. 5318 dan Muslim no. 2573)

Dengan memahami sunnatullah di atas, maka mestinya kita bisa selalu husnudzon bahwa apapun yang menimpa kita dari hal yang tidak mengenakkan, pasti ada kebaikan besar yang telah Allah persiapkan untuk kita.

Apakah mengeluh saat ditimpa ujian atau dirundung musibah berarti tidak yakin dengan sunnatullah?
Tentu tidak, namun secara adab ada hal yang lebih sejalan dengan syariat yang ada karena dicontohkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, tepatnya ketika ujian dari Allah saat mengambil nyawa putra beliau Ibrahim.

العين تدمع والقلب يحزن ولا نقول إلا ما يرضي الرب وإنا لفراقك يا إبراهيم لمحزونون

“Air mata berlinang dan hati bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu kecuali yang diridhai Allah. Dengan kepergianmu ini wahai Ibrahim, kami sangat bersedih.” (HR. Al-Bukhari no. 1241 dan Muslim no. 2315)

Maka contoh yang dilakukan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah menangis, bersedih, namun tidak sampai meraung-raung dan mengatakan sesuatu yang tidak Allah ridhoi.

Kitapun boleh mengabarkan atau memberi info pada orang lain tentang keadaan kita, namun juga tetap dengan adab, yakni mendahului dengan pujian bahwa ini sudah menjadi ketetapan Allah, bersyukur atas ketetapanNya, sabar serta terus berdoa kepadaNya tentang kesembuhan, terus berikhtiar dan meminta doa dari orang sholeh untuk kesembuhan jika musibah tersebut berupa sakit.

Allah berfirman:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 156-158)

Wallahu A’lam

Wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله

 

sumber:  https://bimbinganislam.com/batas-kesabaran-saat-ditimpa-musibah/