Pertanyaan:

Assalamu’alaikum. Tolong pencerahan kepada saya wahai ustadz.

Sudah lebih dari 2 tahun saya diberikan ujian penyakit kepada diri saya dan sampai sekarang saya tetap merasakan penyakit yang sering kambuh. Saya merasa hidup saya tidak bersemangat karena penyakit yang saya derita ini.

Bahkan saya merasa hidup saya seperti dihantui akan kematian. Saya merasa sangat sedih di kala saya sendiri, belum lagi suami saya tidak bekerja alias pengangguran selama saya diberi penyakit. Namun sebagai seorang ibu saya harus kuat dan tabah menjalani cobaan yang saya jalani ini, terkadang saya merasa sangat lelah dengan cobaan ini. Saya hampir putus asa dengan keadaan yang tak kunjung membaik.

Kesehatan saya belum sembuh, suami saya belum bekerja sampai saat ini. Saya yang menafkahi kebutuhan rumah tangga saya.

Saya tetap mendekatkan diri kepala Allah dengan amalan-amalan yang baik seperti shalat tepat waktu, tahajud, duha dan membahagiakan orang-orang di sekeliling saya dengan cara bersedekah.

Semua cobaan ini apakah karena dosa saya terlalu banyak. Bagaimana cara saya memperbaiki diri saya Ustadz. Apa yang harus saya lakukan? Saya benar-benar ingin mengubah diri saya.

(Ditanyakan oleh Sahabat BIAS via Instagram Bimbingan Islam)

 

Jawaban:

Wa alaikumussalaam warahmatullah.

Semoga Allah memberikan kekuatan dan ketabahan bagi Anda yang sedang diberikan ujian oleh Allah ta’ala, ketahuilah bahwa ada hikmah dan pelajaran di setiap ujian, dan Allah ta’ala tidak akan menzalimi hambanya, Allah berfirman:

وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan Tuhanmu tidak menganiaya/mendzolimi seorangpun.” (Al-Kahf: 49)

Allah tidaklah memberikan beban ujian melainkan sesuai batas kemampuan hambanya:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (Al-Baqarah:286)

Jadi, kami hanya bisa memberi nasihat dan masukan untuk tetap senantiasa berprasangka baik kepada Allah ta’ala, karena ujian yang menimpa seorang hamba itu pasti ada tujuan di baliknya, entah Allah ingin mengampuni dosa-dosa kita, ataukah Allah ingin memberikan pahala besar bagi kita, ataukah karena Allah justru cinta dengan kita, ataukah Allah ingin menyegerakan hukuman kita di dunia sehingga dihapuskan dan dibebaskan dari hukuman akhirat, dan hikmah-hikmah lainnya. Dalam beberapa hadist Rasul sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573.)

Dalam hadist yang lain:

عن أنس رضي الله عنه, عَنِ النَّبِىِّ –صلى الله عليه وسلم– قَالَ :إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan jika Allah mencintai suatu kaum Dia akan menguji mereka, siapa yang ridha maka baginya keridhaan (Allah) dan siapa yang murka maka baginya kemurkaan (Allah).” (Hadits riwayat Tirmidzi (no. 2576) dan dishahihkan oleh Al Albani)

Dalam hadist lainnya:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَة

Diriwayatkan dari Anas ibn Malik radhiyallahu ’anhu berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk hamba-Nya maka Dia akan menyegerakan untuknya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki kejelekan untuk hamba-Nya maka Dia akan menahan darinya hukuman karena dosanya sehingga kelak di akhirat Dia akan menyempurnakan hukuman untuknya” (HR. At-Tirmidzi, no. 2319 dengan sanad yang hasan)

Di antara upaya agar kita bisa menerima ketentuan Allah dan sabar untuk menghadapi ujian adalah dengan melihat kondisi ujian orang-orang terdahulu, ujian yang dihadapi para Nabi dan orang-orang shalih, dengan itu kita akan merasa bahwa ujian kita belum ada apa-apanya di banding mereka.

Misal seperti Rasul kita Muhammad sallallahu alaihi wa sallam yang diuji tidak memiliki ayah semenjak beliau masih dalam kandungan, kemudian ketika beliau umur 6 tahun ditinggal wafat ibunda beliau, di kala umur 8 tahun ditinggal kakek beliau Abdul Muttalib, lantas sekitar 9 tahun selepas beliau diutus sebagai Rasul, beliau ditinggal wafat oleh istri beliau Khadijah rodiyallahu anha dan ditinggalkan oleh paman beliau yang mengasuh beliau sejak kecil, yakni Abu Thalib.

Belum lagi semua putra putri beliau wafat mendahului beliau, kecuali Fatimah, belum ujian sakit, diancam nyawanya, diboikot secara ekonomi dan sosial, serta ujian-ujian lain.

Jika kita bisa mengambil pelajaran dari kisah-kisah seperti itu, ini akan menjadi suplemen tambahan keimanan dan kesabaran bagi kita. Semoga Allah memberikan pada Anda kesabaran dan keteguhan, dan memberikan taufiqnya pada kita semua. Wallahu a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله

 

Sumber: https://bimbinganislam.com/nasihat-bagi-yang-sedang-tertimpa-musibah/