Pertanyaan:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz, saya ingin bertanya.

Ada mantan agnostik (alhamdulillah dia sudah taubat) bertanya,

“Nabi Adam kan telah diampuni Allah. Tetapi jika sudah diampuni mengapa tidak dikembalikan lagi ke surga? Bukannya sudah diampuni? Apakah kita harus menanggung dosa turunan nenek moyang kita?”

Kata dia, itu adalah pertanyaan klise yang sering dilontarkan orang-orang agnostik dan atheist. Jadi ketika saya jawab dengan prinsip bahwa semua sudah ditakdirkan, semua perbuatan Allah penuh hikmah, dia meminta yang lebih logis karena akan digunakan untuk menjawab pertanyaan mereka.

Bagaimana jawabannya menurut Ustadz?

جَزَاك اللهُ خَيْرًا

(Dari Ikhwanul Muslimin di Bandung Anggota Grup WA Bimbingan Islam N05 G-39)

Jawab:

Pertama, harus kita ketahui bahwa ada yang namanya dosa dan ada yang namanya akibat/sanksi dari dosa. Contoh dosa ialah membunuh orang yang haram dibunuh tanpa alasan yang benar. Dosa ini melibatkan tiga pihak, dan masing-masing punya konsekuensi tersendiri. Pihak pertama adalah Allah sebagai Dzat yang dimaksiati dan konsekuensi dari maksiat ini ialah Allah akan menghukum pelakunya dengan hukuman sangat berat jika ia tidak bertaubat. Pihak kedua adalah korban pembunuhan, dan konsekuensinya ia akan menuntut pembunuhnya di hadapan Allah dan meminta keadilan dariNya.

Namun jika si pelaku telah menyesali perbuatannya dan bertaubat dari dosanya, maka boleh jadi Allah akan memberikan sesuatu kepada si korban yang menjadikannya ridha dan memaafkan si pelaku pada hari kiamat. Pihak ketiga adalah keluarga korban, yang dalam aturan syariat kita diberi pilihan sebagai berikut :

Menuntut balas (qishas) atas si pelaku, sehingga ia dihukum mati.

Menuntut ganti rugi materi (diyat) kepada si pelaku, sebesar harga 100 ekor unta atau 200 ekor sapi atau 1000 ekor kambing.

Berdamai dengan si pelaku atas imbalan harta dengan nominal yang disepakati (bisa lebih besar dari diyat).
Memaafkan si pelaku secara cuma-cuma tanpa imbalan.

Nah, hak pihak ketiga ini tidak gugur begitu saja walaupun si pelaku telah bertaubat dan diampuni dosanya antara dia dengan Allah. Ini berlaku dalam syariat Rasulullah, dan mungkin dalam syariat sebagian rasul sebelum beliau, akan tetapi tidak harus berlaku dalam semua syariat. Contohnya dalam syariat Adam tidak diberlakukan adanya qishas maupun diyat.

Nah, kaitannya dengan dosa Adam ‘alaihissalaam, boleh jadi dosa itu sendiri diampuni namun sanksi tetap diberlakukan, dan ini mutlak merupakan aturan Allah yang kita tidak berhak memprotesnya.
Jadi, katakan kepada mereka bahwa klaim mereka kalau dosa Adam sudah diampuni maka semestinya ia dikembalikan ke Surga sehingga anak cucunya tidak keluar dari Surga, ini adalah asumsi yang dibangun atas dasar analogi yang keliru. Karena dalam syariat kita, kita menemukan bahwa tidak semua dosa diperlakukan seperti itu. Bahkan dalam syariat sebelum kita, ada dosa yang hanya bisa diampuni dengan cara pelakunya melakukan bunuh diri, contohnya dosa Bani Israil yang menyembah anak lembu, yang taubatnya ialah dengan saling bunuh diantara mereka (lihat: QS AlBaqarah: 54). Jadi, mungkin saja diturunkannya Adam dari Surga adalah bagian dari sanksi Allah berlakukan atas Adam sebagai syarat diterimanya taubat beliau.

Kedua, dalam menyikapi aturan Allah tentunya harus dibangun atas dasar keimanan dan tidak semata-mata dinilai berdasarkan logika. Mengapa? Karena logika adalah standar yang nisbi dan tidak konstan, sehingga tidak mungkin menjadi acuan dalam menilai benar-salahnya sesuatu.

Contoh: Kaum musyrikin menganggap bahwa kembali hidupnya orang mati yang sudah menjadi tulang-belulang adalah sesuatu yang mustahil. Namun apakah logika ini bisa diterima? Tentu tidak, sebab konsekuensi dari menerima logika ini adalah murtad dari islam. Di samping itu, logika tersebut juga tidak benar, karena menciptakan sesuatu yang semula tidak ada sama sekali adalah lebih sulit daripada mengembalikan sesuatu yang pernah ada sebelumnya. Demikian pula, bila Allah sanggup menghidupkan bumi yang kering kerontang dengan air hujan, maka mengapa Allah tidak sanggup menghidupkan manusia kembali? Manakah yang lebih sulit penciptaannya secara logika: menciptakan langit dan bumi ataukah menciptakan manusia? Ini semua adalah bantahan terhadap orang yang mendewakan logikanya dalam menentang wahyu.

Jadi, bantahannya adalah bahwa mengimani hal tersebut adalah syarat menjadi mukmin, dan mengingkarinya dengan alasan apapun adalah penyebab kekafiran.
Yang namanya iman dimensinya berbeda dengan ilmu pengetahuan alam yang memang menjadi bidang kerja akal/logika kita. Pun demikian, logika/akal kita sangat terbatas fungsinya, sehingga tidak semua ilmu pengetahuan dapat ditangkap/dicerna oleh akal/logika. Contohnya hakikat ruh yang kita miliki… kita tidak mungkin mengingkarinya namun juga tidak bisa menjelaskannya secara logika.

Contoh lainnya tentang sejarah masa lalu seperti nama manusia pertama yaitu Adam, dan istrinya Hawa, dan kisah-kisah yang dialami oleh umat terdahulu… semuanya adalah ilmu yang tidak bisa dirumuskan dengan logika, namun harus berdasarkan wahyu… sehingga yang berperan di sini adalah keimanan semata. Kalau anda beriman anda dapat menerimanya dengan lapang dada… dan bagi yang menolaknya, berarti dia kafir terhadap wahyu tersebut. Simpel khan? Masalahnya mereka mau jadi orang beriman atau orang kafir? Kalau mau beriman ya konsekuensinya semua yang Allah wahyukan dan kabarkan, baik dalam Alqur’an maupun melalui hadits shahih harus dibenarkan dan dipercayai, walau logika mereka tidak dapat mencernanya.

Ketiga: Dalam mengimani bahwa Allah memiliki sifat hikmah dalam setiap aturan dan keputusanNya, konsekuensinya adalah kita tidak boleh cerewet terhadap takdir Allah yang tidak bertentangan dengan syariatNya, seperti diturunkannya Adam ke bumi.
Analoginya seperti ini: Jika anda membeli sebuah Laptop buatan pabrik yang terkenal dengan kualitas produknya, seperti Toshiba, Dell, Sony dan sebagainya. Maka dapat dipastikan anda tidak akan menanyakan secara detail fungsi setiap tombol atau lubang atau komponen elektronik yang terdapat di dalamnya. Anda cukup yakin bahwa semua tombol, lubang atau komponen elektronik yang dijumpai dalam laptop tersebut pasti ada manfaatnya (baca: hikmahnya).

Anda dapat meyakini hal tersebut karena melihat reputasi pabrik pembuatnya yang terkenal mumpuni. Nah, demikian pula mestinya kita menyikapi setiap keputusan Allah… bukankah Allah maha mengetahui? Bukankah Allah maha adil? Bukankah Allah maha sempurna dalam menciptakan sesuatu? TENTU. Oleh karenanya, kalau ada sebagian dari keputusan Allah yang tidak kita ketahui hikmahnya, maka cukuplah kita yakini bahwa itu pasti ada hikmahnya, hanya saja karena keterbatasan ilmu kita, kita tidak dapat mengungkapnya… sebagaimana karena keterbatasan ilmu kita tentang hardware komputer kita tidak dapat mengetahui fungsi demikian banyak komponen elektronik yang terdapat dalam sebuah laptop yang kita miliki, walaupun kita yakin 100% bahwa semuanya pasti bermanfaat.

Demikian, semoga jawaban ini membantu.
Wallaahu a’lam.
Konsultasi Bimbingan Islam

Dijawab oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc MA

Referensi: https://bimbinganislam.com/sikap-atheis-terhadap-kisah-nabi-adam/