Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Afwan Ustadz.
Ini mengenai hak dan kewajiban suami istri, berkaitan dengan RUU PKS.
Apakah dibolehkan kalau suami menginginkan hubungan suami istri dengan memaksa, sedang isteri terlalu lelah karena bekerja.
Apakah isteri berdosa karena menolak keinginan suaminya tersebut?
mohon dengan dalil biar yakin.

Jazaakumullahu khairan wa barakallahu fiikum.

(Disampaikan oleh Fulanah Sahabat BiAS T08 G-18)

Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Saya kurang mengetahui dan kurang memahami tentang RUU yang dimaksudkan. Akan tetapi berkaitan dengan pertanyaan setelahnya tentang penolakan istri terhadap keinginan suaminya melakukan jima’ adalah perkara yang sangat berbahaya. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه فأبت فبات غضبان لعنتها الملائكة حتى تصبح

“Apabila seorang lelaki mengajak istrinya untuk urusan ranjangnya, lalu ia menolak dan suaminya marah maka ia akan senantiasa dilaknat oleh malaikat sampai pagi.”
(HR Bukhari : 5193 Muslim : 122).

Akan tetapi seorang istri boleh menolak ajakan jima‘ dari suaminya apabila ada alasan yang diudzur oleh syariat.
Diantaranya tatkala jima’ tersebut menyebabkan timbulnya maksiat seperti meninggalkan shalat dan lain-lain, dan tatkala jima’ tersebut menyebabkan madharat bahaya bagi tubuh si istri.
Al Bahuti rahimahullahu ta’ala menyatakan :

وللزوج الاستمتاع بزوجته ‏كل وقت على أي صفة كانت إذا كان الاستمتاع في القبل… ما لم يشغلها عن الفرائض أو يضرها، فليس له الاستمتاع ‏بها إذن، لأن ذلك ليس من المعاشرة بالمعروف، وحيث لم يشغلها عن ذلك ولم يضرها فله الاستمتاع: ولو كانت على التنور، ‏أو على ظهر قتب ـ كما رواه أحمد وغيره، وجاء في روضة الطالبين للإمام النووي: ولو كانت مريضة أو كان بها قرح ‏يضرها الوطء، فهي معذورة في الامتناع عن الوطء.

“Bagi suami boleh menikmati istrinya kapan saja, dengan cara apa saja jika jima’ dilakukan di Qubul/kemaluan.
Selama jima’ tersebut tidak menyibukkan dari melakukan kewajiban-kewajiban atau bisa menyebabkan bahaya bagi si istri, jika menimbulkan bahaya maka suami tidak boleh melakukannya. Karena hal itu tidak termasuk perlakuan yang baik.

Jika tidak menyebabkan perilaku meninggalkan kewajiban dan tidak membahayakan istri maka suami boleh menjima’inya meski ia sedang berada di dapur atau sekedup sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad yang lainnya.”

Disebutkan dalam Raudhatuth Thalibin karya Imam An-Nawawi :
“Seandainya si istri sakit atau ia terluka jika melakukan jima’ maka istri ini memiliki udzur untuk menolak ajakan jima’.“
(Sumber Fatawa Islamweb no. 242884).

Wallahu a’lam
Wabillahittaufiq

 

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله

 

sumber:  https://bimbinganislam.com/istri-menolak-untuk-berhubungan-dengan-suami-karena-lelah-bolehkah/