Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Semoga ustadz dan admin serta kita semua dijaga Allah.

Bagaimana hukum kita dititipi uang, lalu kita memakai uang titipan tersebut tanpa seizin pemilik, tapi kita berniat mengembalikanya sebelum pemiliknya mengambil uang tersebut?

Jazakallahu khayran, Pak Ustadz. Terima Kasih Banyak atas Bantuannya.

(Disampaikan oleh Fulan, Member grup WA BiAS BN10)

 

Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du

Tidak boleh kecuali atas seizin pemilik harta tanpa seizin pemiliknya meski kita berencana akan mengembalikannya saat dibutuhkan. Karena ini termasuk sikap khianat dan menyia-nyiakan amanah. Disebutkan di dalam fatawa Islamweb :

فلا ريب أن أخذك أموال هذه الشركة بدون علم ولا إذن صاحبها يعتبر إثماً عظيماً وخيانة للأمانة التي اؤتمنت عليها، قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ {الأنفال:27}.
ويجب عليك التوبة إلى الله عز وجل ورد المال فوراً إلى صاحبه، ولا يشترط أن تعلمه بهذه الخيانة، المهم أن ترد المال إليه فوراً إن استطعت، فإن عجزت فرده على أقساط حسب استطاعتك، قال الله تعالى: فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ {التغابن:16}، ولتكتب هذا في وصيتك حتى لا يفجأك الموت فيضيع حق الناس وترتهن أنت بخيانتك،

“Tidak diragukan lagi bahwa perbuatanmu mengambil harta perusahaan tanpa seizin dan tanpa sepengetahuan pemiliknya terhitung sebagai sebuah dosa yang besar. Dan sebagai bentuk pengkhianatan terhadap amanah yang dibebankan. Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”
(QS Al-Anfal : 27).

Wajib bagi engkau untuk bertaubat kepada Allah azza wa jalla, serta mengambalikan harta secara langsung kepada pemiliknya. Dan tidak disyaratkan bagi engkau untuk memberitahukan pengkhianatan ini. Yang terpenting adalah engkau mengembalikan harta ini secara langsung jika engkau memiliki kemampuan. Apabila engkau tidak mampu maka kembalikanlah secara berkala sesuai dengan kemampuanmu. Allah ta’ala berfirman :

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.”
(QS At-Taghabun : 16).

Dan hendaknya engkau menulis hal ini agar engkau tidak bingung tatkala didatangai oleh kematian mendadak sehingga engkau menyia-nyiakan hak manusia. Dan engkau menjadi terhalang dengan khianatmu ini.”
(Fatawa Islamweb no. 70584).

Semoga bermanfaat,
Wallahu ta’ala a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله