Manajemen Marah

Jika kita mencermati ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan kita jumpai begitu banyak pembahasan yang berbicara mengenai akhlak. Hal ini menunjukkan akhlak mendapatkan porsi yang besar dalam agama. Mengetahui akhlak-akhlak buruk sama pentingnya dengan mengetahui akhlak-akhlak baik. Bukan dengan maksud untuk mengamalkannya, tetapi untuk menjauhinya.

Salah satu akhlak mulia yang patut diamalkan adalah menahan amarah, sebaliknya akhlak buruk yang selayaknya dijauhi oleh setiap muslim adalah mudah meluapkan amarah. Patut diketahui bahwasanya sifat marah adalah sifat yang sudah ada dalam jiwa manusia. Setiap orang memiliki potensi untuk marah. Tetapi ketika seseorang sedang marah maka hendaknya dia mengontrol jiwanya agar tidak melampiaskan kemarahannya dengan berkata-kata buruk, memukul, atau hal-hal lainnya yang dilarang oleh syariat.

Sebagaimana dalam hadits yang masyhur, ketika ada sahabat Nabi yang datang kepada Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia berkata:

أَوْصِنِيْ، قَالَ: لَا تَغْضَبْ، فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: لَا تَغْضَبْ

“Berilah wasiat kepadaku!” Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan: “Jangan marah!“. Lelaki ini berulang-ulang meminta wasiat dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tetap mengatakan: “Jangan marah!“ (HR. Bukhāri no. 6116)

Hadits ini menunjukkan akan pentingnya menahan amarah, karena menjadi salah satu wasiat khusus Nabi di samping wasiat-wasiat lainnya. Menahan amarah juga mendapatkan pujian khusus dari Nabi shallallahu ‘alaih wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرْعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ

“Bukanlah orang yang kuat adalah orang yang menang dalam perkelahian, tetapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan jiwanya ketika dia sedang marah” (HR. Bukhari no.6114 dan Muslim no.107)

Kekuatan tidak dipuji karena sekedar kekuatan fisik semata, jika memang demikian niscaya yang lebih pantas dipuji adalah singa, macan, gajah, dan hewan-hewan yang lebih kuat dari manusia. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji seseorang yang bisa mengontrol dirinya ketika muncul kemarahan di dalam jiwanya. Orang kuat yang sejati adalah orang yang tatkala dia marah dan dia mampu untuk melampiaskan, dia bisa mengontrol jiwanya dan tidak melampiaskannya. Inilah diantara sifat mulia yang patut dilatih, sebuah sifat yang bisa meyebabkan masuk ke dalam surga. Sebagaimana Allah Ta’ala menyebutkan sifat penghuni surga di dalam Al-Quran,

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al-Imran: 133-134)

Yang dimaksud dengan meredam amarah adalah berusaha menghilangkan amarah, bukan menyimpannya dan membiarkannya semakin bergejolak di dalam dada.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan beberapa tips untuk meredam amarah, diantaranya:

Berta’awudz kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla

Salah satu amalan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mulai muncul marah di dalam diri yaitu segera berta’awudz (memohon perlindungan) kepada Allah. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang yang sedang marah sampai urat lehernya mengembang karena saking marahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan:

إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذهب عَنْهُ ما يَجدُ

“Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat yang jika orang itu mengucapkannya maka akan hilang kemarahannya, (yaitu) seandainya dia berkata: ‘a’ūdzubillāhi minasy syaithānirajīm’ (aku memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk). Hilang apa yang dia rasakan.”(HR. Bukhari no. 6115 dan Muslim no. 109)

Berwudhu

Jika seseorang sedang marah hendaknya dia berwudhu dengan wudhu yang syar’i sebagaimana ketika akan shalat, dengan niat untuk menghilangkan kemarahan. Niscaya dengan hal itu Allāh akan menghilangkan kemarahan tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Sesungguhnya kemarahan itu dari setan dan setan tercipta dari api, maka ketika salah seorang dari kalian marah padamkanlah api tersebut dengan berwudhu.” (HR. Abu Daud no. 4784)

Jika sedang berdiri hendaknya dia duduk

Diantara tips jika seseorang marah dalam kondisi berdiri, hendaknya dia duduk. Jika ternyata dengan duduk belum hilang kemarahannya, hendaknya dia berbaring. Hal ini disebabkan karena seseorang yang sedang marah dalam keadaan berdiri, dia bisa dengan mudah bertindak. Dia akan mudah untuk memukul, mudah untuk menendang, tangannya mudah untuk menjangkau benda-benda di sekitarnya, misalnya benda tajam atau benda keras untuk dilemparkan kepada orang yang dia marahi, dan lain sebagainya.

Diam ketika marah.

Diantara tips yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang marah adalah diam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Jika salah seorang dari kalian sedang marah maka hendaknya dia diam!“ (HR. Ahmad no. 2136)

Hal ini sangat penting untuk diperhatikan, apabila seseorang sedang marah maka hendaknya dia diam dan jangan berbicara, karena jika dia berbicara hampir bisa dipastikan bicaranya menjadi tidak terkontrol, yang menyebabkan dia mengucapkan perkataan yang tidak adil atau perkataan yang melampaui batas, yang lebih dari seharusnya.

Mengingat ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang memuji orang-orang yang meredam kemarahannya

Diantaranya yaitu firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengenai sifat-sifat penghuni surga sebagaimana yang telah berlalu. Datang pula dalam hadits, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَلَى رُءُوسِ الخَلاَئِقِ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي أَيِّ الحُورِ شَاءَ

“Barangsiapa yang meredam amarahnya padahal dia mampu untuk melampiaskan, maka Allāh akan memanggil dia pada hari kiamat di hadapan khalayak, sampai Allāh mempersilahkan dia memilih bidadari mana yang dia sukai.” (HR. At-Tirmidzi no.2493)

Dengan mengingat keutamaan-keutamaan yang akan didapatkan di hari kiamat kelak bagi orang-orang yang menahan amarahnya akan membuat kita lebih mampu untuk meredam amarah tersebut.

Oleh: Zulfahmi Djalaluddin, S.Si حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

Referensi: https://bimbinganislam.com/akhlak-mendapatkan-porsi-yang-besar-dalam-agama/