Bagaimana Sifat Rendah Hati Rasulullah?

Sifat rendah hati merupakan salah satu perangai bagi orang yang mulia, seperti para nabi dan rasul, ulama, orang shalih, dan lainnya. Berikut kami sajikan artikel mengenai sifat rendah hati Rasulullah!

Bagaimana Sifat Rendah Hati Rasulullah?
Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)

Para pembaca yang budiman,

Diantara nikmat Allah yang begitu banyak ada satu nikmat yang sangat besar dan agung yang Allah anugrahkan kepada hamba-hambanya yaitu Allah mengutus seorang Rasul di setiap kaum. Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ

“Sungguh, benar-benar Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri.” (QS. Ali-Imran: 164)

Para Rasul tersebut Allah jadikan sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan untuk hamba-hambanya. Siapa saja bagi hambanya yang mengikuti ajaran dan petunjuknya maka ia akan selamat dengan masuk ke dalam surga, dan barang siapa yang menyelisihinya maka tempatnya adalah neraka.

Sosok Kepribadian Rasulullah
Berbicara tentang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam maka yang akan tergambar di benak kita yaitu sosok seorang manusia yang paling indah di antara manusia yang pernah ada. Indah dalam segala aspek, terutama pada akhlak beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Di dalam hadist, Ummul mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha pernah mensifati sosok Rasulullah.

عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامِ بْنِ عَامِرٍ قَالَ أَتَيْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَخْبِرِينِى بِخُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم. قَالَتْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَا تَقْرَأُ الْقُرْآنَ قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Sa’ad bin Hisyam bin Amir berkata: “Aku pernah mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha, lalu aku bertanya: “Wahai Ummul Mukminin, beritahukanlah kepadaku akan akhlaknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”, beliau menjawab: “Akhlak beliau adalah Al Quran, apakah kamu tidak membaca Al Quran, Firman Allah Azza wa Jalla: “dan sesungguhnya engkau di atas budi pekerti yang agung.” (HR. Ahmad: 24601)

Salah satu akhlak mulia beliau yang perlu kita cermati untuk diteladani adalah sifat rendah hati yang ada pada diri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bermuamalah dengan siapapun.

Perintah Untuk Berendah Hati
Rendah hati adalah akhlak yang sangat penting untuk setiap insan, sebab sifat ini akan melahirkan berbagai sikap-sikap mulia dan menetramkan kehidupan di tengah masyarakat. Oleh karenanya sepantasnya bagi setiap muslim untuk menghiasi dirinya dengan akhlak tersebut. Terlebih lagi memang dijumpai banyak dalil yang menunjukan bahwa Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hambnya untuk berhias diri dengan sikap rendah hati. Diantaranya Allah Ta’ala berfirman di dalam Alqur’an memerintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap rendah hati terhadap orang-orang yang beriman:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Berendah hatilah engkau terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hijr: 88)

Dan di ayat lain Allah berfirman:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu.” (QS. Asy-Syu’ara: 215)

Allah Ta’ala juga memerintahkan untuk bersikap rendah hati dihadapan kedua orang tua:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 24)

Nabi juga pernah bersabda:

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati, sehingga salah satu diantara kalian tidak merasa sombong kepada yang lain juga tidak berbuat zalim kepada yang lain.” (HR. Muslim: 2865)

Oleh karenanya berangkat dari pentingnya bersikap rendah hati ini, penulis ingin menggambarkan beberapa contoh kerendahhatian Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bermuamalah dengan manusia disekitarnya yang termaktub dalam hadist-hadist shahih, sehingga kita dapat mengambil pelajaran dan keteladanan dari apa yang telah dicontohi oleh Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadist Pertama
عَنْ عُمَرَ ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ ، فَقُولُوا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Dari Sahabat Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Janganlah kalian menyanjungku dengan berlebihan sebagaimana kaum Nasrani menyanjung Isa bin Maryam, sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka panggillah aku dengan sebutan hamba Allah dan Utusan-Nya.” (HR. Ahmad: 165)

Hadist ini menunjukan bahwa salah satu dari sifat rendah hati Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau tidak suka di puji, apalagi dengan pujian yang berlebihan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang sahabat-sahabatnya untuk berlebihan dalam memuji. Hal ini disebabkan beliau takut para sahabat akan terjatuh pada sifat ghuluw (berlebih-lebihan) sebagaimana yang terjatuhya Kaum Nasrani pada sifat ghuluw terhadap Nabi Isa ‘alaihis salam. Oleh karenanya, Rasulullah memerintahkan para sahabat radhiallahu ‘anhum untuk memanggil dirinya dengan panggilan “Hamba Allah” atau “Rasulullah (utusan Allah)”.

Inilah sebuah bentuk sikap rendah hati yang ada pada diri beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam, dimana beliau memilih sebuah panggilan yang sesuai dengan hakekat dirinya, tidak berlebihan, menempatkan diri beliau pada posisinya, beliau tidak merasa tinggi sehingga merasa berhak atas pujian-pujian yang berlebihan.

Sebagian orang kita dapati mereka ketika memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka memuji dengan berlebihan. Bahkan terkadang pujian tersebut tidak layak disandarkan kepada Rasulullah, sebab mereka memuji dengan sifat-sifat atau hak-hak yang tidak boleh disandarkan kecuali hanya kepada Allah Ta’ala.

Maka kita sebagai pengikut Rasulullah yang mengaku mencintai Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam wajib bagi kita merealisasikan apa yang beliau perintahkan. Kita memanggil dan memuji Beliau sesuai dengan apa yang Beliau ajarkan. Karena tanda kesempurnaan cinta seseorang kepada Rasulullah adalah mengerjakan apa yang diperintahkan dan dicintai oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadist Kedua
عن أنس أيضا رضي الله تعالى عنه أنّ امرأة جاءت إلى النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم فقالت له: إنّ لي إليك حاجة، فقال: اجلسي في أيّ طرق المدينة شئت أجلس إليك

Dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu beliau menceritakan suatu hari datang seorang wanita menjumpai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Sesungguhnya aku membutuhkan sesuatu darimu (wahai Rasulullah). Lalu Rasulullah menjawab: “Pilihlah di jalan mana yang engkau kehendaki di kota Madinah ini, tunggulah aku di sana, aku akan menemuimu (memenuhi keperluanmu).” (HR. Abu Daud: 4818)

Subhanallah, beginilah Akhlak Nabi kita shallalllahu ‘alaihi wa sallam, seorang pemimpin yang sangat sibuk, Beliau mau menyempatkan dirinya untuk mendengarkan rintihan hajat rakyatnya walaupun rakyat tersebut adalah seorang wanita, padahal pada zaman tersebut wanita sangatlah direndahkan oleh masyarakat kaum jahiliyyah. Yang lebih mengejutkan lagi, Beliau memberikan pilihan kepada wanita tersebut untuk memilih tempat yang ia sukai atau ia inginkan, kemudian beliau akan mejumpainya di tempat tersebut untuk mendengar hajatnya.

Maka pada hadist ini sangat jelaslah tergambarkan bagaimana kerendahan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada riwayat-riwayat yang lain Rasulullah juga mempraktekkan hal ini pada anak-anak kecil, orang-orang yang telah sepuh umurnya dan juga kepada budak-budak yang miskin.

Hadist Ketiga
عن أنس بن مالك، قال كان النبي صلى الله عليه و سلم يعود المريض، و يشهد الجنائز، ويركب الحمار، و يجيب دعوة العبد

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu beliau menceritakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu menjenguk orang yang sedang sakit, Nabi juga menghadiri jenazah, Nabi menjadikan keledai sebagai tunggangannya, Nabi juga memenuhi undangan para budak. (HR. Tirmidzi di dalam Kitab Jami’nya: 1017)

Hadist ini merupakan hadist yang mengumpulkan beberapa keteladanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bersikap rendah hati.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallammenjenguk orang yang sedang sakit. Menjenguk orang-orang yang sakit disini tidak beliau khususkan kepada orang-orang yang memiliki kedudukan atau terpandang diantara masyarakat saja, tapi beliau lakukan juga kepada siapa saja, baik itu seorang yang kaya ataupun miskin, seorang muslim ataupun kafir.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallammenghadiri jenazah tidak hanya sekedar mengunjungi sebentar kemudian beranjak pergi, tapi beliau hadir sejak pengurusan mayit hingga dikuburkannya mayit.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengendarai keledai, padahal pada saat itu keledai adalah tunggangan atau kendaraan yang paling rendah di antara tunggangan-tunggangan yang lain seperti onta dan kuda. Padahal jika beliau ingin, beliau mampu dan berhak menunggangi selain keledai. Oleh karenanya menunggangi himar menunjukan kerendahan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Bahkan di sebagian riwayat beliau juga terkadang mengunjungi para sahabat dengan berjalan kaki.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memenuhi undangan siapa saja yang mengundang beliau walaupun sang pengundang adalah seorang budak yang miskin.
Hadist Keempat
Suatu ketika datang seseorang arab baduwi menemui Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam dengan kondisi ketakutan (karena merasa berhadapan dengan seorang pemimpin kaum muslimin). Ketika Nabi melihat keadaan orang tersebut, maka Nabi langsung menenangkannya dengan berkata:

هون عليك إنما أنا ابن امرأة من قريش كانت تأكل القديد

“Tenang, Sesungguhnya saya hanyalah putra seorang wanita Quraisy yang juga memakan daging yang diasinkan.” (HR. Ibnu Majah: 3312)

Lihat sikap Nabi ini, beliau tidak sombong dan tidak merasa bangga karena ada orang yang ketakutan atau salah tingkah ketika berhadapan dengannya. Malah sebaliknya beliau merendahkan diri beliau dihadapan orang tersebut dengan menenangkannya, kemudian memberikan penjelasan bahwa sebenarnya kedudukan beliau dengan orang tersebut adalah sama. Seakan-akan beliau mengatakan kepada orang tersebut “engkau memakan daging kering yang disinkan, Akupun juga memakan makanan tersebut.”

Keutamaan sifat rendah hati
1. Memasukan pelakunya ke dalam surga
Allah Ta’ala berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat (Surga) itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashas: 83)

Allah menyatakan pada ayat di atas bahwa Allah jadikan surga itu bagi orang-orang yang tidak sombong yaitu rendah hati.

2. Mendatangkan kemuliaan baik di dunia maupun di akhirat bagi pelakunya
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

Sedekah tidaklah mengurangi harta. tidaklah Allah menambahkan kepada seseorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya. (HR. Muslim: 2558)

Para ulama ketika menjelaskan hadist ini, mereka menjelaskan bahwa yang dimaksudkan yaitu Allah akan meninggikan derajatnya di dunia dan di akhirat. Di sunia Allah memuliakannya di tengah-tengah manusia, dan di akhirat Allah akan pahala dan meninggikan derajatnya di surga kelak.

3. Mendatangkan kasih sayang, menghapuskan dendam, dan menghilangkan permusuhan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati, sehingga salah satu diantara kalian tidak merasa sombong kepada yang lain juga tidak berbuat zalim kepada yang lain.” (HR. Muslim: 2865)

Demikian, mungkin yang sedikit ini mudah-mudahan bisa bermaanfaat bagi kita semua. Mudah-mudahan Allah memuliakan kita dengn sifat rendah hati dan menjauhi kita dari sifat sombong.

Ditulis Oleh:
Ustadz Gigih Nugraha

Referensi: https://bimbinganislam.com/bagaimana-sifat-rendah-hati-rasulullah/