Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Afwan Ustadz,
Mengenai berdehem setelah buang air kecil pada laki – laki maupun perempuan agar lebih bersih, apakah hal tersebut disunnahkan? Sedangkan dalam Majmu’ Fatawa (21/106) ditegaskan oleh Syaikhul Islam bahwa perbuatan itu tidak disyariatkan dan tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mohon penjelasan Ustadz?
Syukron jazaakallohu khoyron Ustadz
(Sahabat BiAS, T07 G-68)

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Alhamdulillāh, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Iya benar, anjuran berdehem setelah buang air ini merupakan sesuatu yang TIDAK memiliki landasan dalil dalam agama kita, sebagimana ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di atas.

Sehingga melakukannya boleh ditinggalkan, pun juga boleh tanpa ada konsekuensi hukum apapun. Bahkan jika diklaim ia bagian dari agama maka bisa menjadi bid’ah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan :

التنحنح بعد البول والمشي والطفر إلى فوق والصعود في السلم والتعلق في الحبل وتفتيش الذكر بإسالته وغير ذلك: كل ذلك بدعة ليس بواجب ولا مستحب عند أئمة المسلمين بل وكذلك نتر الذكر بدعة على الصحيح لم يشرع ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Berdehem setelah buang air kecil, berjalan, naik turun tangga atau bergelantungan di tali dan mengurut kemaluan setelah buang air, atau sikap yang tidak tuntunannya, semua itu adalah bid’ah, tidak wajib dan tidak dianjurkan menurut para ulama kaum muslimin.

Termasuk juga menyentil kemaluan, termasuk hal baru menurut pendapat yang kuat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkannya.”

(Majmu’ Fatawa : 21/106).

Wallahu a’lam, wabillahi taufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Abul Aswad al Bayati حفظه الله

Referensi: https://bimbinganislam.com/hukum-berdehem-setelah-buang-air-kecil/