Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Mengenai materi kajian pembahasan kitab “Nuzhatul Muttaqin” pada hadist ke-37;
‘Tidaklah sesuatu yang menimpa seorang muslim, baik berupa Min Nashobin (rasa letih), sakit, gelisah, sedih, Walaa Adza (gangguan), Walaa Ghommin (gundah gulana), maupun duri Yusyaakuha (yang mengenainya), melainkan dengan ujian itu Alloh akan mengampuni dosa-dosanya”. [Muttafaq ‘Alaih]

Disebutkan salah satu faedah Haditsnya: ’Orang yang celaka adalah orang yang diharamkan dari pahala kebaikan’.

Ustadz, apa yang dimaksud dengan ‘orang yang diharamkan dari pahala kebaikan?’ Dan apa saja penyebabnya?

جَزَاك الله خَيْرًا

(Disampaikan Oleh: Admin BiAS T08)

 

Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Orang yang diharamkan pahala kebaikan berarti disulitkan dalam beramal, dan itulah orang yang celaka. Orang yang tidak peka karena tidak ridho serta tidak berilmu bahwa apapun yang menimpanya adalah yang terbaik menurut Taqdir Alloh.

Seringkali kita tidak terima dengan ketentuan Taqdir, menyalahkan jadwal yang padat hingga capek bahkan sakit, menyalahkan kondisi yang ada hingga sedih, bahkan sampai berkepanjangan. Padahal Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasallam menerangkan tentang pentingnya ridho pada Taqdir Alloh yang bisa membawa pada keridhoanNya,

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sejatinya jika Alloh mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridho (terhadap ujian tersebut) maka baginya ridho Alloh dan barang siapa yang marah (terhadap ujian tersebut) maka baginya murka-Nya”. [HR Tirmidzi 2320]

Inilah bahasa hikmah dari syari’at, dan telah kita ketahui bahwa apapun keluar dari lisan Nabi yang Mulia Sholallohu ‘Alaihi Wasallam sangat dalam maknanya.

Sebagaimana ketika Beliau صلى الله عليه وسلم menerangkan tentang orang yang cerdas.

ﺍﻟْﻜَﻴِّﺲُ ﻣَﻦْ ﺩَﺍﻥَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ، ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﺟِﺰُ ﻣَﻦْ ﺃَﺗْﺒَﻊَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻫَﻮَﺍﻫَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻤَﻨَّﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu bermuhasabah atas dirinya dan beramal untuk setelah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya kemudian berangan-angan kosong kepada Alloh”. [HR Tirmidzi 2383]

Padahal kayyis secara bahasa seperti yang dijelaskan Syaikh Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi tentang Al-Kayyis, Syarah Hadits di atas;

أي العاقل المتبصر في الأمور الناظر في العواقب

“Al-Kayyis yaitu yang berakal, suka mengevaluasi (muhasabah) pada suatu urusan dan suka memperhatikan hasil di masa depan“.

Namun dalam hadits tersebut dikaitkan oleh Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasallam langsung dengan urusan akhirat. Maka inilah pentingnya bagi kita untuk mengkaitkan segala sesuatu dengan urusan Akhirat, jangan sampai kita hanya jadi orang yang berorientasi pada Dunia dan menomorduakan Akhirat, bahkan jahil dalam urusan Akhirat.

Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda;

إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يُبْغِضُ … كُلَّ عَالِمٍ بِأمر الدُّنْيَا جَاهِلٍ بأمر الْآخِرَة

“Sejatinya Alloh ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akhirat”. [HR Ibnu Hibban fi Shohihihi 1975, Baihaqi 10/194]

Wallohu A’lam, wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
? Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله

 

Sumber: https://bimbinganislam.com/apa-yang-dimaksud-orang-yang-diharamkan-dari-pahala-kebaikan/