Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah senantiasa memberikan nikmat dan rahmat-Nya kepada ustadz dan keluarga, aamiin.

Afwan ada titipan pertanyaan
Apa fungsinya kita berusaha sedangkan takdir kita sudah ditentukan sebelum penciptaan kita?
Mohon pencerahannya, jazaakumullah khoiron.

(Penanya: Fulan anggota grup BiAS (Bimbingan Islam))

Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Bismillah,
Semoga kita semua dimudahkan untuk bisa mengamalkan bagian dari rukun iman, yakni iman pada takdir.

Saudaraku sekalian yang mencintai Sunnah dan dicintai oleh Alloh, makna dari mengimani taqdir bukanlah pasrah begitu saja dengan ketetapan Alloh tanpa ada usaha. Sebab perintah untuk berusaha juga merupakan taqdir yang Alloh tetapkan dan perintahkan kepada hamba-Nya.

Takdir menurut islam itu ada dua macam
Yang perlu dipahami adalah, taqdir itu ada 2 macam; Mutlaq dan Ikhtiari.

Takdir mutlaq adalah taqdir yang terjadi diluar campur tangan atau usaha manusia sama sekali, seperti terjadinya banjir atau tsunami. Sebersih dan secanggih apapun teknologi kalau Alloh sudah berketetapan tidak ada yang bisa menghalanginya.

Adapun takdir ikhtiari adalah taqdir yang terjadi dengan campur tangan atau usaha manusia (setelah kehendak Alloh), seperti banjir karena sampah yang tidak dibuang sembarangan.

Jika dihubungkan dengan Sebab-Akibat, yakni sebab sebagai usaha dan akibat sebagai taqdir. Aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa “sebab” memang memiliki pengaruh pada “akibat” namun tidak secara otomatis. Karena keberadaan “sebab” juga terjadi melalui pertolongan yang Alloh berikan.
Setiap makhluk memiliki kehendak dan kemampuan. Makhluk yang berbuat, makhluk pula yang mendapatkan hasilnya. Alloh ta’ala berfirman:

مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Robb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya”
(QS Fushshilat 46)

Meskipun demikian, makhluk juga tidak dapat berdiri sendiri dalam kehendak dan kemampuan, sama seperti “sebab” tidak dapat berdiri sendiri dalam menghasilkan “akibat”. Alloh ta’ala berfirman:

لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Alloh, Robb semesta alam”
(QS At-Takwir 28-29)

Karenanya saudaraku sekalian yang mencintai Sunnah dan dicintai oleh Alloh, usaha dan taqdir ini bukan sesuatu yang layak dibenturkan. Apapun taqdir Alloh, kita tetap diperintahkan untuk berusaha. Disebutkan dalam hadits Abu huroiroh, Nabi shollalohu ‘alaihi wasallam bersabda;

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Alloh dibandingkan mukmin yang lemah, dan masing-masing mempunyai kebaikan. Bersungguh-sungguhlah (dalam berusaha) untuk hal yang bermanfaat untukmu. Mohonlah pertolongan dari Alloh dan jangan merasa lemah.
Jika ada sesuatu menimpa dirimu, jangan ucapkan; ‘Andai saja saya melakukan begini, tentu akan menjadi begini dan begitu’.
amun ucapkanlah; ‘Telah ditakdirkan Alloh, apa yang Alloh subhanahu wa ta’ala kehendaki, Alloh pasti melakukannya’. Sesungguhnya ucapan ‘andai saja’, akan membuka amalan setan”
[HR Muslim 4816]

Semoga Alloh mudahkan kita menapaki jalan ikhtiar, dan melapangkan dada kita dalam menerima taqdir.

Wallahu A’lam,
Wabillahittaufiq.

 

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله

 

sumber:  https://bimbinganislam.com/apa-fungsi-kita-berusaha-padahal-takdir-sudah-ditentukan-pahami-takdir-menurut-islam/