Lemah vs Lemah Siapa Yang Menang?

Home/Artikel/Tauhid/Lemah vs Lemah Siapa Yang Menang?

Lemah vs Lemah Siapa Yang Menang?

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Saya yakin semua dari kita pernah mengucapkan ta’awaudz, yaitu ungkapan:

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

(A’ūdzubillāhiminasysyaithānirrojīm).

Dan saya yakin semuanya sudah hafal dan kalau ditanya tentang artinya sekilas mungkin banyak yang sudah tahu.

A’ūdzubillāhiminasysyaithānirrojīm, aku memohon perlindungan kepada Allāh dari godaan atau syaitan yang terkutuk.

Tapi:

?Sudahkah kita mendalami makna dari kalimat yang mulia ini?
?Sudahkan kita mengetahui kenapa kita diperintahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk memohon perlindungan kepadanya ?
?Apakah syaitan adalah makhluk yang kuat sehingga kita perlu bantuan Allāh Subhānahu wa Ta’āla ?
?Kalau memang syaitan makhluk yang lemah, kenapa kita perlu meminta bantuan Allāh Subhānahu wa Ta’āla?

Inilah yang in syaa Allāh akan sedikit kita kupas pada kesempatan yang berbahagia kali ini.

Pertanyaan pertama tentunya adalah kenapa kita minta perlindungan sama Allāh, apakah syaitan adalah sosok makhluk yang begitu kuat sehingga kita perlu untuk meminta perlindungan kepada Allāh, kalau memang syaitan itu makhluk yang lemah terus kenapa kita tidak mengandalkan kekuatan diri kita saja, kalau misalnya anda na’udzubillāhimindzālik dirampok misalnya.
Anda misalnya dirampok oleh sepuluh perampok, yang mana sepuluh perampok itu adalah orang yang kuat-kuat, saya yakin saat itu anda perlu bantuan, anda perlu meminta pertolongan kepada orang lain untuk menghadapi sepuluh perampok yang kuat-kuat tersebut, namun sekarang kalau misalnya ada perampok datang kepada anda dia orangnya kurus, lemah bahkan mungkin anak kecil katakanlah, dia anak kecil akan merampok anda dan anda tidak perlu bantuan kepada orang lain karena anda merasa bisa menangani perampok itu sendiri.

Syaitan adalah makhluk yang lemah, silahkan anda dalam Al Qur’an surat An Nisa ayat 76 disitu Allah subhanahu wat’ala berfirman:

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah”

Sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah, jadi sejatinya syaitan adalah makhluk yang lemah, syaitan adalah makhluk yang lemah, terus kenapa kita perlu bantuan dari Allah subhanahu wata’ala untuk menghadapi makhluk yang lemah tersebut ?

Apakah kita tidak cukup dengan kekuatan yang kita miliki sendiri, mengapa kita perlu butuh bantuan Allah subhanahu wata’ala ?

Jawabannya adalah karena kita sebagai manusia juga makhluk yang lemah, makannya dalam Al Qur’an surat An Nisa juga, dan ini menarik, surat An Nisa juga di ayat berbeda yaitu ayat ke 28 Allah subhanahu wata’ala menegaskan:

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Manusia itu diciptakan sebagai makhluk yang lemah”

Berarti syaitan lemah dan manusia juga lemah, berarti sekarang lemah versus lemah, ah kalau lemah ketemu sama lemah siapa yang menang, yang jadi pertanyaan siapa yang menang?

Yang menang adalah yang minta pertolongan kepada yang maha kuat yaitu Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dari sinilah kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman di dalam surat yang lainnya yaitu dalam Al Qur’an surat Al A’raf ayat 200, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirmant:

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla “seandainya kalian sedang diganggu oleh syaitan maka mintalah perlindungan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

Mintalah perlindungan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kenapa?
Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla Maha Mendengar dan Maha Melihat”

Jadi dalam Ayat ini Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan kita untuk meminta perlindungan kepada Allāh jala wa ‘ala karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla punya kemampuan supaya kita menang melawan syaitan kita harus minta perlindungan dan pertolongan serta bantuan dari Dzat yang Maha Kuat yaitu Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dari sinilah kita diperintahkan untuk ber isti’adzah, maka jangan sampai diantara kita terlalu mengandalkan kekuatan dirinya sendiri, mentang-mentang saya udah shālat lima waktu dengan rajin, saya sudah berdzikir, saya sudah berpuasa, saya sudah berhaji tidak mungkin syaitan akan menang melawan saya, ini semuanya adalah penyakit yang sangat berbahaya.

Makannya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam diantara do’a yang sering beliau ucapkan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad dan do’a ini atau hadits ini dinilai hasan oleh syaikh Al Albani, kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو

“Ya Allāh aku mengharapkan rahmat-Mu wahai Allāh, aku mengharapkan kasih sayang-Mu wahai Allāh”

Kemudian kata Nabi apa?

فَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

“Janganlah engkau jadikan aku bergantung pada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata”

Sekejap mata itu, berapa sih ?

Sekejap mata, satu detik atau bahkan kurang dari itu, Nabi kita Shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak mau menggantungkan diri pada kekuatan dirinya sendiri saja, karena apa karena manusia adalah makhluk yang lemah.

Seandainya Nabi kita Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah merupakan sosok makhluk yang paling bertakwa, keimanannya paling unggul, ketakwaannya paling tinggi diantara sekian banyak manusia yang ada di muka bumi saja mengakui kelemahan dirinya kenapa kita seperti itu wahau kaum muslimin dan kaum muslimat yang kami hormati.

Maka mari kita berusaha untuk mengucapkan

أعوذ بالله من الشيطان الرجي (A’ūdzubillāhiminasysyaithānirrojīm)

Bukan hanya sekedar di lisan kita tapi kita masukkan ke dalam hati kita, kita meyakini bahwa kita adalah makhluk yang lemah, kita adalah insan yang fakir yang membutuhkan bantuan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla sehingga kita senantiasa menggantungkan nasib kita, urusan kita, kepentingan kita, seluruh kehidupan kita hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ

Kaya Allāh Subhānahu wa Ta’āla: “Bertawakal lah kalian kepada yang maha hidup yang tidak akan pernah mati”.
(QS AlFurqan 58)

Jadi disinilah kita diperintahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk menggantungkan diri kita, untuk menggantungkan nasib kita kepada yang maha hidup dan yang tidak akan pernah mati.

Kata para ulama, disini ada tiga jenis yang kita tidak boleh menggantungkan diri kepada mereka:

(1) Benda mati, yang memang jelas-jelas dia itu mati seperti batu, keris, jimat kemudian berhala, patung dan seterusnya benda mati, ini yang pertama kita tidak boleh menggantungkan diri kepada benda mati.

(2) Makhluk hidup, makhluk hidup yang akan mati, jangan kita menggantungkan diri kepada makhluk hidup yang akan mati karena mereka suatu saat nanti akan hilang, mereka suatu saat nanti akan tidak ada di muka bumi ini, ini makhluk hidup yang akan mati, yang akan mati siapa ya manusia, jin, syaitan dan seterusnya.

(3) Makhluk hidup yang sudah mati, siapa itu ya merekalah yang ada di kuburan, jangan kita gantungkan diri kita kepada mereka.

Tapi gantungkanlah seluruh urusan kita, mohonlah perlindungan dan bantuan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, Al Hayyi yang maha hidup Alladzii laa yamuut yang tidak akan pernah mati.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat, wallāhuta’ala wa a’lam, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Sumber: http://bimbinganislam.com/lemah-vs-lemah-siapa-yang-menang/

2017-02-28T17:13:11+00:00 February 28th, 2017|

Silakan komentar atau ajukan pertanyaan